• >
    • Showing posts with label Tokoh. Show all posts
      Showing posts with label Tokoh. Show all posts

      02 January 2013

      SBY Menangis Lihat Film, Kok Anak-anak Gaza Dibombardir Israel Tak Membuatnya Menangis?



      Jakarta (SI ONLINE) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memang sosok yang sensitif. Cuma sayang, sensitifnya SBY hingga membuat dia meneteskan air mata taktala menonton film saja.

      Saat menyaksikan film Ayat-Ayat Cinta (AAC) karya sutradara liberal, Hanung Bramantyo, SBY mengaku terharu dan akhirnya meneteskan air mata. Presiden terenyuh dengan cerita yang ada di film yang dibintangi oleh Fedi Nuril dan Carissa Putri tersebut.

      "Berkali-kali saya harus menyeka air mata. Pesannya sampai. Saya kira semua sepakat bahwa film ini memberikan banyak nilai terhadap kita, bagaimana saling toleran dan damai," ujar SBY usai nonton AAC 28 Maret 2008 lalu seperti dikutip merdeka.com.

      Presiden merasa bangga usai nonton Ayat-ayat Cinta. Di tengah lesunya film nasional, ternyata masih ada film berkualitas yang layak ditonton.

      "Saya bangga, kita semua bangga, dan perlu memberikan penghargaan setinggi-tingginya bahwa ternyata ada karya anak bangsa yang bisa dibanggakan," imbuh SBY.

      Empat tahun kemudian, tepatnya Senin (17/12/2012) lalu, Presiden SBY kembali menangis. Penyebabnya pun sama, film karya Hanung Bramantyo. Rupanya, kisah hidup mantan Presiden BJ Habibie dan almarhum istrinya Ainun Habibie yang difilmkan membuat sang presiden terharu.

      Tak cuma presiden saja yang menangis, Ibu Negara Ani Yudhoyono juga berlinang air mata. SBY juga tampak terbata-bata saat menyampaikan kata sambutan usai menonton film tersebut.

      SBY beberapa kali tampak menyeka air matanya dengan tangan. Sementara Ibu Ani juga beberapa kali menyeka air matanya dengan kain.

      "Apa yang kita ketahui, dan apa yang kita ikuti ini berkaitan dengan Bapak Habibie dan Ibu Ainun, saya kira semua sependapat. Apa yang kita saksikan tadi penuh dengan pembelajaran, serta nilai-nilai yang patut kita contoh," kata SBY.

      Selain memaparkan karier politik sang presiden, film ini juga tak luput menyorot kisah personal sang presiden dengan istrinya, Ainun Habibie. Dua bintang film ternama, Reza Rahadian dan Bunga Citra Lestari dipercaya sang sutradara, Hanung Bramantyo untuk menghidupkan sosok Habibie dan Ainun dalam film.

      Namun setiap kisah pasti mempunyai akhir, demikian pula setiap mimpi mempunyai batas. Pada satu titik, dua belahan jiwa ini tersadar, apakah cinta mereka akan bisa terus abadi?

      Dan seperti yang diprediksikan, film ini ternyata memang menguras air mata, setidaknya air mata SBY dan istrinya, Ani Yudhoyono.

      Sayangnya, SBY menangis ketika menonton film saja. Melihat penderitaan rakyat Indonesia, masyarakat Indonesia masih banyak yang miskin dan menganggur, korban-korban bencana di berbagai daerah, sepertinya tidak membuat SBY menangis dan begitu terharu. Apalagi menyaksikan penderiataan umat Islam di belahan negara lain.

      "Kita juga tidak pernah menyaksikan SBY menangis saat menyaksikan anak-anak Palestina dibombardir dan ditembaki oleh tentara Zionis Israel," kata fungsionaris Forum Umat Islam (FUI) Ustad Bernard Abdul Jabbar, kepada Suara Islam Online, Selasa (18/12/2012).

      Padahal, lanjut UStad Bernard, pembunuhan dan pembantaian terhadap kaum Muslimin di Palestina, Suriah, Rohingya adalah fakta bukan drama apalagi film. "Mengapa itu tidak bisa membuat SBY trenyuh kemudian menangis?," tanyanya.

      Ia lantas membandingkan SBY dengan Menteri Luar Negeri Turki, Ahmet Davutoglu, yang menangis ketika mengunjungi Gaza bersama delegasi Menteri Luar Negeri Negara Liga Arab akhir bulan lalu.

      Davutoglu berkunjung ke Rumah Sakit al-Shifa di Jalur Gaza dan berjumpa dengan keluarga korban perang. Menlu Turki itu langsung menangis ketika memeluk keluarga Palestina yang berkumpul di wilayah itu.

      "Dia menangis betulan menyaksikan mayat-mayat dan korban-korban kekejaman Israel di Gaza. Tidak seperti SBY yang menangis karena film," tandasnya.

      Ustad Bernard menyarankan, bila SBY tidak bisa menyaksikan langsung penderitaan rakyat Gaza, supaya menyaksikan film dokumenter "Tears of Gaza".

      "Supaya SBY bisa benar-benar merasakan penderitaan mereka," pungkasnya.

      red: shodiq ramadhan

      Said Aqil Siroj: Yang Saya Tentang Wahabi, Bukan Raja Arab Saudi



      Jakarta (SI ONLINE) - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj menyebut ada kaitan antara aliran Wahabi dengan jaringan terorisme. Sebab, menurut Said, ajaran ini menyebutkan ziarah kubur, tahlilan, haul, dan istighosah itu musyrik dan bid'ah.

      “Nah, di hati dan pikiran anak-anak muda, kalau begitu orang NU musyrik, kalau gitu orang tua saya tahlilan musyrik juga, halal darahnya, bisa dibunuh,” kata dia. Sebab itu, menurutnya ajaran Wahabi sangat berbahaya.

      Bagaimana pandangan Said Aqil mengenai Wahabi, Terorisme dan Pemerintah Arab Saudi, kutipan wawancara yang dimuat Merdeka.com, Jumat (28/9/2012) ini menggambarkan secara jelas pandangan doktor alumni Iniversitas Ummul Quro', Mekkah, tersebut.

      Sejauh mana pengaruh asing membentuk radikalisme di Indonesia?

      Kita awali dulu dari Timur Tengah. Dulu, begitu Anwar Sadat berkuasa di Mesir, tahanan kelompok Ikhwanul Muslimin dipenjara, semua dilepas. Mereka kebanyakan pintar, ahli. Setelah keluar dari tahanan, kebanyakan megajar di Arab Saudi. Di Arab mereka membentuk gerakan Sahwah Islamiyah atau kesadaran kebangkitan Islam. Sebenarnya pemerintah Arab Saudi sudah prihatin, khawatir mereka menjadi senjata makan tuan.

      Tapi, kebetulan pada 1980-an, Uni Soviet masuk ke Afghanistan. Pemerintah Arab menjaring, menampung anak-anak, termasuk kelompok Ikhwanul Muslimin, berjihad ke Afghanistan, termasuk Usamah Bin Ladin. Bin Ladin ini keluarga kaya, pemborong Masjidil Haram. Singkat cerita, setelah Soviet lari, kemudian bubar, Arab Saudi memanggil mereka kembali. Yang pulang banyak, yang tidak juga banyak.

      Lalu Bin Ladin membentuk Al-Qoidah. Menurut mazhab Wahabi, membikin organisasi bid’ah. Maka Bin Ladin diancam kalau tidak pulang dicabut kewaranegaraannya. Sampai tiga kali dipanggil, tidak mau pulang, maka dicabutlah kewarganegaraanya. Nah, sekarang jadi sambung dengan cerita teroris di Indonesia. Di sini ada DITII, di sana ada Al-Qaiudah. Tapi saya heran, mereka ini berjuang atas nama Islam, tapi tidak pernah ada gerakan Al-Qaidah pergi ke Palestina.

      Walau mengebom itu salah, saya heran, padahal mengatasnamakan demi Islam, tapi tidak pernah ada Al-Qaidah pergi ke Israil mengebom atau apalah. Yang dibom, malah Pakistan, Indonesia, dan Yaman. Kenapa tidak pergi ke Israil kalau memang benar-benar ingin berjihad. Walau saya sebenarnya juga tidak setuju kalau sekonyong-konyong mengebom Israel, itu biadab juga. Tapi artinya, kalau benar-benar ingin berjuang kenapa tidak ke Israel.

      Lalu hubunganya dengan Indonesia?

      Kemudian beberapa organisasi di Indonesia mulai tumbuh. Mohon maaf, ketika beberapa lembaga atau yayasan pendidikan di Indonesia didanai oleh masyarakat Saudi beraliran Wahabi, Ingat, bukan pemerintah Arab Saudi. Dana dari masyarakat membiayai pesantren baru muncul, di antaranya; Asshofwah, Assunnah, Al Fitroh, Annida. Mereka ada di Kebon Nanas, Lenteng Agung, Jakarta, Sukabumi, Bogor, Jember, Surabaya, Cirebon, Lampung dan Mataram.

      Mereka mendirikan yayasan Wahabi. Tapi sebentar, jangan salah tulis, saya tidak pernah mengatakan Wahabi teroris, banyak orang salah paham. Tapi doktrin, ajaran Wahabi bisa, dapat mendorong anak-anak muda menjadi teroris. Karena ketika mereka megatakan tahlilan musyrik, haul dan istighosah bidah, musyrik, dan ini-itu musyrik.

      Nah, di hati dan pikiran anak-anak muda, kalau begitu orang NU musyrik, kalau begitu orang tua saya tahlilan musyrik juga, halal darahnya, bisa dibunuh. Kalau seperti itu, tinggal ada keberanian atau tidak, ada kesempatan dan kemampuan atau tidak, nekat dan tega atau tidak. Kalau ada kesempatan, ada keberanian, ada kemampuan, tinggal mengebom saja. Walau ajaran Wahabi sebenarnya mengutuk pengeboman, tidak metolerir, tapi ajaran mereka keras,

      Contoh, di pesantren Assunnah, Kalisari Jonggrang, Cirebon Kota. Pemimpinnya Salim Bajri, sampai sekarang masih ada, punya santri namanya Syarifudin mengebom masjid Polresta Cirebon, punya santri namanya Ahmad Yusuf dari Losari, mengebom gereja kota di Solo. Ajarannya sih tidak pernah memerintahkan mengebom, tapi bisa mengakibatkan.

      Anda setuju Wahabi pembentuk radikalisme?

      Saya tidak pernah mengatakan Wahabi teroris, banyak orang salah paham. Tapi doktrin, ajaran Wahabi dapat mendorong anak-anak muda menjadi teroris. Karena ketika mereka megatakan tahlilan musyrik, haul dan istighosah bidah, musyrik, dan ini-itu musyrik. Jadi ajaran Wahabi itu bagi anak-anak muda berbahaya.

      Bisa dibilang ada persaingan antara Wahabi dan Sunni?

      Ya jelas dong. Jadi mereka punya sistem, uang, dana, pelatih. Tapi sekali lagi jangan salah paham. Saya hormat kepada Raja Abdullah bin Abdul Aziz karena saya alumnus sana. Tapi saya menentang Wahabi.

      Jadi sebatas perbedaan pendapat?

      Ya, yang saya tentang Wahabi, bukan raja Arab Saudi. Karena duta besar Arab Saudi bilang saya ini mencaci Raja Arab. Itu salah.

      Berapa pesantren beraliran Wahabi ini?

      Setahu saya ada 12 pesantren, di antaranya Asshofwah, Assunnah, Al Fitrah, Annida. Pesantren seperti ini (Wahabi) lahirnya baru sekitar 1980-an.


      BIODATA

      Nama : Said Aqil Siroj
      Tempat/Tanggal Lahir : Cirebon, 3 Juli 1953
      Hobi : Membaca, ibadah, silaturrahmi
      Istri : Nur Hayati Abdul Qodir
      Anak : Muhammad Said Aqil, Nisrin Said Aqil, Rihab Said Aqil, Aqil Said Aqil

      Pendidikan:
      S1 Universitas King Abdul Aziz, jurusan Ushuluddin dan Dakwah, lulus 1982
      S2 Universitas Umm al-Qura, jurusan Perbandingan Agama, lulus 1987
      S3 University of Umm al-Qura, jurusan Aqidah / Filsafat Islam, lulus 1994

      Pendidikan Non-Formal:
      Madrasah Tarbiyatul Mubtadi'ien Kempek Cirebon
      Hidayatul Mubtadi'en Pesantren Lirboyo Kediri (1965-1970)
      Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta (1972-1975)

      Pengalaman Organisasi:
      Sekertaris PMII Rayon Krapyak Yogyakarta (1972-1974)
      Ketua Keluarga Mahasiswa NU (KMNU) Mekkah (1983-1987)
      Wakil Katib 'Aam PBNU (1994-1998)
      Katib 'Aam PBNU (1998-1999)
      Penasihat Gerakan Anti Diskriminasi Indonesia (Gandi) (1998)
      Ketua Forum Komunikasi Kesatuan Bangsa (FKKB) (1998-sekarang)
      Penasihat Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam UI (1998-sekarang)
      Wakil Ketua Tim Gabungan Pencari fakta (TGPF) Kerusuhan Mei 1998 (1998)
      Ketua TGPF Kasus pembantaian Dukun Santet Banyuwangi (1998)
      Penasihat PMKRI (1999-sekarang)
      Ketua Panitia Muktamar NU XXX di Lirboyo Kediri (1999)
      Anggota Kehormatan MATAKIN (1999-2002)
      Rais Syuriah PBNU (1999-2004)
      Ketua PBNU (2004-sekarang)
      Ketua Majelis Wali Amanat UI, (2012-sekarang)

      Kegiatan:
      Tim ahli bahasa Indonesia dalam surat kabar harian Al-Nadwah Mekkah (1991)
      Dosen di Institut Pendidikan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ) (1995-1997)
      Dosen pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1995-sekarang)
      Wakil Direktur Universitas Islam Malang (Unisma) (1997-1999)
      MKDU penasihat fakultas di Universitas Surabaya (Ubaya) (1998-sekarang)
      Wakil ketua dari lima tim penyusun rancangan AD / ART PKB (1998)
      Dosen luar biasa Institut Islam Tribakti Lirboyo Kediri (1999 – sekarang)
      Majelis Permusyawaratan Rakyat anggota fraksi yang mewakili NU (1999-2004)
      Lulusan Unisma direktur (1999-2003)
      Penasihat Masyarakat Pariwisata Indonesia (MPI) (2001-sekarang)
      Dosen pascasarjana ST Ibrahim Maqdum Tuban (2003-sekarang)
      Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) 2010-2015.

      sumber: merdeka.com

      Yahudi Siap Balkanisasi Indonesia




      Dr. Ichsanuddin Noorsy
      (Pengamat Ekonomi)


      Perselisihan antara Grup Bakrie yang dipimpin Aburizal Bakrie sebagai pemilik mayoritas saham perusahaan tambang batubara PT Bumi Resources melawan pengusaha Yahudi asal Inggris, Nathaniel Rothschild, sebagai pemilik mayoritas saham perusahaan Bumi Plc, menunjukkan sesungguhnya hubungan dagang antara Indonesia dengan kaum Yahudi sudah sedemikian mengkhawatirkannya. Bahkan hubungan dagang tersebut bisa dimanfaatkan kaum Yahudi terutama Zionis Israel untuk melakukan operasi intelijen di Indonesia sebagai negara dengan mayoritas umat Islam terbesar di dunia.

      Hubungah bisnis antara Aburizal Bakrie dengan Nathaniel retak setelah pengusaha Yahudi yang memiliki saham 29,18 persen di PT Bumi Resources yang sahamnya didominasi Bakrie Brothers, mencurigai PT Bumi Resources telah melakukan manipulasi aset dan keuangan sehingga merugikan dirinya. Sebagai balasannya, Grup Bakrie yang juga memiliki saham 23,80 persen di Bumi Plc yang didominasi Nathaniel, bertekad akan menarik seluruh sahamnya dari Bumi Plc Karena tidak terima, maka pengusaha Yahudi itu melaporkannya ke Pengadilan Inggris dan sekarang kasusnya sedang disidangkan disana.     

      Berikut ini wawancara Suara Islam dengan pengamat ekonomi, Dr Ichsanuddin Noorsy, seputar hubungan dagang antara Indonesia dengan kaum Yahudi khususnya Zionis Israel dan bagaimana dampaknya bagi masa depan negara kepulauan terbesar di dunia yang letaknya sangat strategis tersebut, apakah nantinya bisa membahayakan eksistensi NKRI. Sebab hubungan dagang hanya digunakan sebagai kedok kaum Zionis Israel untuk melakukan operasi intelijen dan Indonesia akan dipecah-belah (Balkanisasi) sehingga terjadilah disintegrasi bangsa. 

      Meski tidak memiliki hubungan diplomatik secara resmi, tetapi tampaknya hubungan dagang Indonesia-Israel berjalan lancar. Bagaimana komentar Anda ?

      Dalam kebijakan ekonomi Indonesia yang mengikatkan diri dengan ekonomi global, yang dalam bahasa Mafia Berkeley adalah terintegrasinya perekonomian Indonesia dengan ekonomi internasional, maka transaksi ekonomi terselubung merupakan bagian utuh dari pelaksanaan prinsip ekonomi terbuka. Banyak operasi intelijen Israel turun ke Indonesia dalam kemasan perdagangan. Bahkan dengan keterbukaan informasi dan penerapan prinsip Good Corporate Governance, perdagangan Indonesia-Israel sukar dihindari. Beberapa pejabat politik dan pebisnis Indonesia bahkan terbiasa berdialog dengan Dubes Israel untuk Singapura di Singapura. Situasi seperti ini menunjukkan, politisi, birokrat dan pebisnis Indonesia memahami soal hubungan diplomatik tapi lain lagi dalam kebijakannya.

      Mengapa Israel memandang penting hubungannya dengan Indonesia ?

      Sejak dijajah hingga hari ini, Indonesia dilihat dalam tiga hal. Yakni sumberdaya alam melimpah yang pantas dieksploitasi, pasar yang menjanjikan dan upah buruh murah. Bagi Israel ada yang lebih penting lagi, berdagang dan berhubungan dengan Indonesia sama dengan memberi pesan kepada dunia bahwa negeri yang penduduknya mayoritas muslim berhasil ditaklukkannya, sebagaimana pernyataan Jimmy Carter setelah Pemilu 2004 saat demokrasi liberal menang di negeri yang penduduknya beragama Islam.

      Berhubungan dagang dan politik dengan Indonesia melalui mental terjajah pada kebanyakan akademisi, politisi, birokrat, aparat serta LSM sangatlah menjanjikan keuntungan menggiurkan. Dalam praktek, bukan hanya keuntungan material yang didapat, Israel juga memperoleh manfaat bahwa sistem nilainya tegak dan dilaksanakan di Indonesia. Lihatlah bagaimana membahananya sistem nilai materialisme dan individualisme serta tidak konsistennya umat Islam atas ajaran Al Qur’an dan Al Hadist. Perhatikan pula, betapa renyahnya hasil politik adu domba dan pecah belah dalam lingkup sekularisme, individualisme, pluralisme, dan liberalisme. Yang menyedihkan, kegagalan sistem politik, sistem ekonomi, dan sistem sosial serta sistem hukum dinikmati oleh masyarakat luas atas nama kebutuhan, kemudahan, dan kecepatan seperti dominannya penggunaan jalan raya dengan sistem dan kehendak pribadi.

      PM Israel Yitzhak Rabin pernah berkunjung ke Indonesia dan bertemu Presiden Soeharto di rumahnya Jalan Cendana, Jakarta (15/10/1993). Apalah itu menjadi awal dimulainya hubungan Indonesia-Israel ?

      Yahudi masuk ke Indonesia di penghujung abad 19 melalui eksplorasi dan bisnis minyak yang bekerja sama dengan Pemerintah Hindia Belanda. Di era Indonesia mempertahankan kemerdekaan, Yahudi menyelusup melalui berbagai kebijakan dan perjanjian internasional. Karena Yahudi memegang kunci bisnis di dunia, maka Indonesia juga harus ditaklukkannya melalui bisnis minyak, keuangan, militer dan media massa. Empat hal ini digunakan secara sinergi, alternatif atau kumulatif, tergantung pada situasi, kondisi dan strategi yang hendak dicapai. Di era Orde Baru, Yahudi masuk melalui bisnis pertambangan emas dengan menentukan bahwa investasinya terjamin, Indonesia tunduk pada kehendak investor (dengan istilah iklim investasi yang kondusif), dan keuntungan bisa dibawa berapa saja dan kapan saja serta cukup dengan royalti sekadarnya 1,5 persen.

      Sejak Indonesia menerima pinjaman luar negeri, sejak saat itulah cengkeraman Yahudi menguat. Maka saat Indonesia bersedia membangun kerjasama militer, keuangan, dan pendidikan, Indonesia sudah masuk dalam perangkap alam pikir Yahudi. Di era reformasi, hal itu dilakukan melalui Letter of  Intent yang dipaksakan IMF. Untuk selanjutnya hingga hari ini, Yahudi tidak memiliki hubungan diplomatik, tapi secara substansi, nilai-nilai yang digagas Yahudi melembaga di Indonesia. Perhatikan berbagai UU yang menerapkan prinsip hak asasi manusia secara absolut dan mekanisme perdagangan bebas serta kebebasan berinventasi. Semua itu menunjukkan keberhasilan Yahudi.

      Apakah hubungan militer Indonesia-Israel sudah terjalin lama ?


      Sejak LB Moerdani menjadi petinggi militer Indonesia, hubungan kemiliteran Indionesia-Israel terjalin dengan baik. Tetapi saat Indonesia mengirim tentara terbaiknya untuk belajar di West Point, maka sejak itu hubungan militer Indonesia-Israel terjalin. Mereka bisa datang ke Indonesia atas nama ahli (experties) perminyakan, keuangan, konsultan, bahkan sebagai akademisi. Padahal di balik kehadiran itu, mereka mempunyai misi tersendiri, termasuk misi militer.

      Mengapa KADIN begitu bersemangat untuk menjalin hubungan dagang dengan Israel ?


      KADIN menyadari bahwa penentu WTO, OECD, Bank Dunia, IMF, BIS, APEC, Bilderberger, Trilateral Commission, Council for Foreign Relationship adalah Yahudi. Selain itu, kebanyakan petinggi KADIN sudah menerapkan prinsip bisnis Yahudi: serakah. Jadi persoalannya hanya pada persoalan kulit warna dan kebangsaan saja.

      Pengusaha pribumi nasional Nirwan D Bakrie juga berhubungan bisnis dengan pengusaha Yahudi Inggris, Rothschild. Mengapa hubungan keduanya sekarang menjadi retak ?

      Hubungan mereka retak karena Bumi Plc -- yang sahamnya didominasi oleh Nathaniel Rothschild dan mempunyai saham 29 persen di Bumi Resources yang sahamnya didominasi Bakrie Brothers— mencurigai Bumi Resources telah melakukan manipulasi aset dan keuangan. Padahal Laporan Keuangan Bumi Resources telah diaudit. Menurut Nath, panggilan akrab Yahudi yang dekat dengan lingkungan kerajaan Inggris ini, berdasarkan whistleblower, Bumi Res telah melakukan manipulasi sehingga merugikan. Di sisi lain Bumi Res memang mengalami kerugian operasi. Karena tudingan ini, Ari Hudaya yang duduk dijajaran eksekutif Bumi Plc mengundurkan diri. Ari tentu saja tersinggung dengan tudingan itu karena Ari Hudaya menjabat Presiden Direktur Bumi Resources. Semua sister company Bumi Res menolak tudingan Bumi Plc bahkan melakukan perlawanan. Otoritas Bursa kemudian menulis surat dengan mengajukan lima pertanyaan. Bagi saya, keretakan itu bersumber karena keserakahan masing-masing pihak.

      Apakah ini berarti pertarungan antara pengusaha pribumi vs pengusaha Yahudi ?

      Ini pertarungan kaum neoliberal, antara neoliberal nasional dan neoliberal internasional. Di balik pertarungan ini terdapat niat Nath menguasai Bumi Res. Jika Bumi Res dikuasai Bumi Plc., maka semua konsesi pertambangan batu bara dan saham-saham di pertambangan emas akan dikuasai Bumi Plc. Ini yang disebut hostile take over, yakni dengan berperang atas tuntutan penjualan saham pada harga tertentu dan pergantian direksi sehingga tujuan pengambil alih perusahaan tercapai. Model ini sama seperti AS menuding Irak (Saddam Hussein) mempunyai senjata pemusnah massal berdasarkan laporan intelijennya. Faktanya tudingan tidak terbukti tetapi Saddam dijatuhi hukuman mati dan sumberdaya minyak Irak beralih ke perusahaan minyak AS. Joseph E Stiglitz menyebutnya sebagai perang USD 3 Triliun namun yang menikmati perusahaan-perusahaan yang dekat dengan penguasa.

      Bagaimana dampaknya terhadap Aburizal Bakrie (Ical) jika sampai kalah dalam sengketa melawan Rothschild di Pengadilan Inggris ?

      Dampaknya semua konsesi yang dimiliki oleh sister company Bumi Res akan menjadi milik Nath. Bahkan bersamaan dengan tudingan manipulasi aset dan keuangan itu, reputasi dan kredibilitas Ical sudah digerogoti. Artinya, peluang Ical maju Capres pada Pemilu 2014 sudah diganggu oleh isu manipulasi itu. Ini yang disebut dengan The Shock Doctrine oleh Naomi Klein, atau Silent Take Over oleh Noreena Hertz, atau Hiden Agenda-nya Joseph E Stiglitz. Jika Bumi Res kalah melawan Bumi Plc., maka seluruh pertambangan Indonesia beralih ke tangan asing.

      Ical sebagai pemilik perusahaan batubara Bumi Plc dan Bumi Resource, apakah kedua perusahaan itu bisa dikuasai Rothschild ?

      Bumi Plc kini tetap dikuasai Nathaniel Rotschild. Jika paksaan Nath pada Bumi Res agar Bakrie Brothers menjual kepemilikan sahamnya di Bumi Res kepada Bumi Plc., maka Nath akan menguasai Kaltim Prima Coal (KPC), Arutmin, Berau, dan beberapa konsesi pertambangan batu bara lain. Padahal Bumi Res adalah salah satu pemegang konsesi batu baru terbesar di Indonesia. Dengan demikian dapat dipastikan Nath akan menjadi penguasa batu bara di Indonesia kalau Nirwan dan kawan-kawan kalah menghadapi modus operandi “senjata pemusnah massal Irak”.

      Ditengarai Ical memiliki banyak hutang. Bagaimana jika gagal merestrukturisasi hutang-hutangnya, apakah bisa bangkrut ?

      Nathaniel Rotschild memang pernah bertanya tentang penempatan dana Bumi Res di sejumlah pihak yang terafiliasi, yakni Recapital, Bukit Mutiara, dan Chateau, senilai kurang lebih US$ 867 juta. Nath menghendaki penempatan dana investasi itu dicairkan untuk mengurangi beban utang Bumi Res. Menurut media di Jakarta, utang rupiah 10 perusahaan grup Bakrie hingga kuartal I-2012 mencapai Rp 21,4 triliun dengan utang jatuh tempo pada tahun ini sebesar Rp 7,1 triliun. Sementara utang dalam dollar AS mencapai US$5,7 miliar dan jatuh tempo tahun ini sebesar US$ 275 juta. Menurut laporan keuangan kuartal I-2012, ada tiga perusahaan Bakrie dengan utang terbesar, yakni Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) dengan total utang Rp 8,6 triliun dan total jatuh tempo 2012 Rp 2,3 triliun. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tercatat berutang US$ 3,69 miliar dengan total jatuh tempo pada 2012 US$ 62 juta. PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS) berutang US$ 295 juta dengan total jatuh tempo US$ 12 juta.

      Pertanyaannya, bagaimana Bakrie bisa membuat utang seperti itu ? Tentu saja para kreditor melihat aset Bakrie, dalam hal ini konsesi batu bara dan saham pada perusahaan pertambangan emas Freeport dan Newmount Nusa Tenggara. Dalam bahasa yang lain, utang jangka panjang Bakrie bisa diselesaikan dengan penjualan aset. Lalu bagaimana dengan penyelesaian utang jangka pendek di tengah harga batu bara sedang merosot dan musim hujan segera tiba sehingga mengganggu produksi ? Direksi Bumi Res menjawab, “kami akan meningkatkan produksi dan memenuhi komitmen kontrak.”

      Jika Ical sampai bangkrut, bagaimana dampaknya dengan pencalonannya sebagai Capres 2014 dari Partai Golkar ?

      Entah dengan maksud menggerus reputasi dan kredibilitas Ical atau tidak, keputusan Bumi Plc., untuk melakukan investigasi atas manipulasi aset dan keuangan memberi dampak negatif terhadap Ical. Memang kelompok usaha Bakrie sendiri mempunyai kelemahan, antara lain: (1) gagal membangun kebanggaan korporasi pada jajaran staf dan karyawannya sebagai bukti korporasi gagal membangun corporate dignity, (2) korporasi bergerak dengan basis matematis akuntansi sehingga memberi pesan dan kesan sebagai mesin pencipta keuntungan dan akumulasi modal bagi pertumbuhan usaha kelompok Bakrie, (3) pertumbuhan usaha hingga mencapai skala ekonomi yang besar tidak diikuti dengan perbaikan sistem yang berkelanjutan, (4) Gaji yang marjinal di kalangan karyawan menengah bawah tidak sejalan dengan meroketnya aset perusahaan dan debt equity ratio, (5) Ical sendiri memberi kesan angkuh, terutama saat ia menjadi Menko Perekonomian yang menyatakan, “jangan membeli gas jika tidak mampu.” (6) akumulasi kelemahan-kelemahan itu berwujud menjadi kegagalan perusahaan membangun keyakinan bahwa kelompok usaha Bakrie adalah aset ekonomi nasional, (7) dalam posisi Ical sebagai Ketua Umum Partai Golkar, acapkali terkesan kurang mampu mendengar dan malah mempertegas konflik peranan dan sayangnya konflik peranan ini gagal diselesaikan oleh unit usaha Bakrie yang lain, walaupun sebenarnya hal itu mampu dilaksanakan.

      Pengusaha Yahudi AS, George Soros berhasil mengguncang ekonomi Asia sehingga Indonesia terkena dampak badai krisis ekonomi (1998). Menurut prediksi anda, apakah itu akan diulanginya lagi tahun 2013 ?

      Krisis di Indonesia, seperti analisis saya sejak SBY berkuasa, bermula karena penerapan kebijakan neoliberal yang makin mendalam. Sementara penelitian yang dilakukan di empat negara membuktikan, kebijakan neoliberal akan berdampak pada konflik sosial dan melahirkan ketimpangan sturktural yang mendalam. Dalam situasi seperti itu, situasi 2013 akan berbeda dengan kondisi 1997/1998. Menurut penilaian Bank Dunia dan IMF, Indonesia dipandang sukses menjalankan liberalisasi sektor keuangan dengan hasil memuaskan. Jika Indonesia kembali dipukul, maka hal itu tidak menguntungkan pemodal internasional disebabkan AS, Uni Eropa dan sejumlah negara industri belum pulih ekonominya, bahkan melambat.

      Jika 2013 terjadi ketegangan sosial, hal itu disebabkan ketimpangan yang makin lebar dan mendalam, sebagaimana Joseph E Stiglitz melukiskan kedalaman dan lebarnya ketimpangan ekonomi di AS. Inilah yang saya sebut bahwa menerapkan dan konsisten dengan prinsip-prinsip neoliberal sama dengan menyulut sumbu keresahan sosial ekonomi dan politik. Persoalannya kapan keresahan itu akan meledak, tergantung pada kepekaan sosial ekonomi dan politik para petinggi negeri ini.

      Bank Dunia menyadari hal ini sehingga memberi pinjaman kepada Indonesia untuk Program Keluarga Harapan dan berbagai program lain untuk mengurangi kemiskinan. Bayangkan hasilnya dengan merujuk anjuran dan desakan Bank Dunia sendiri. Yakni Indonesia akan makin dalam terperangkap ke jurang neoliberal, terpenjara pada kemiskinan martabat, dan selalu mengidap penyakit kekerasan simbolik (symbolic torture) seperti dibuktikan pada gagalnya sistem pendidikan nasional. Indonesia akan kembali “dipukul” oleh Yahudi dan kawan-kawannya jika petinggi Indonesia mulai menunjukkan harkat martabatnya. Dan merujuk pada sejumlah perjanjian internasional dan bilateral yang dibuat di era SBY, maka pada 2014 nanti yang akan menang kembali kelompok neoliberal.

      Bagaimana bahayanya jika pengusaha Yahudi dengan dukungan politik dari Israel dan AS, sampai berhasil menguasai politik dan ekonomi Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia ?

      Indonesia akan di-Semenanjung Balkan-kan (disintegrasi) atau diskenariokan seperti negara boneka. Merdeka secara politik, tapi terjajah secara ekonomi dan sosial. Inilah yang saya sebut sebagai beramanat tapi berhianat, berpangkat tapi tidak terhormat, menjabat tapi tidak bermartabat.

      (Abdul Halim)

      Wawancara dengan Akhwat Suriah: Kami Takkan Pernah Lari!




      Fatimah
      Akhwat, Apoteker
      di Suriah

      Serangan udara biasanya dimulai pagi hari sekitar jam 09.00. Sesuai prosedur tetap semua yang ada di klinik 6 lantai ini harus berkumpul di lantai paling bawah. Di antara mereka ada sepasang suami istri berpakaian putih-putih. Mereka, dr. Ibrahim dan istrinya yang apoteker, Fatimah. Bila terdengar raungan pesawat, Fatimah membenamkan kepala ke dada suaminya. Sang suami pun memeluk menenangkannya. Lalu... blaarrr, bom pun meledak mengguncang dinding tempat kami berlindung. Itulah rutinitas yang hampir tiap hari terjadi. Ibrahim dan Fatimah tiap hari jaga di klinik dari pagi hingga sore. Bagaimana seorang wanita bernama Fatimah bisa bertahan di tempat berbahaya seperti ini? Atas izin suaminya, HASI berkesempatan mewancarainya.

      Apa yang mendorong seorang wanita seperti Anda menerjuni pekerjaan yang berbahaya ini?

      Pada umumnya wanita takut dengan kondisi seperti ini. Tapi justru kondisi seperti inilah yang memaksa seorang wanita bermental laki-laki. Sebagai orang yang dididik di dunia medis, tentu saya tidak akan menyia-nyiakan ilmu yang saya cintai ini untuk menolong saudara saya sesama Muslim. Apalagi ini kondisi jihad. Saya dan adik saya tentu akan meluangkan semua pekerjaan untuk itu. Semenjak belajar di bangku kuliah, saya sudah niatkan untuk ibadah. Lalu datang kesempatan jihad ini.  Apalagi, rata-rata dokter di sini fokus di penanganan trauma, tidak ada yang bertugas di farmasi. Karena itu, saya tidak akan menyia-nyiakan ilmu yang saya miliki.

      Dalam pengabdian selama ini, kasus apa yang menurut Anda paling berkesan?

      Kejadiannya ketika Anda dan kawan-kawan Indonesia baru dua hari di klinik ini. Ketika ada seorang warga yang terluka, sementara saya hanya satu-satunya paramedis yang waktu itu siaga di sini. Saya harus membersihkan darah dari wajahnya. Itulah pertama kali saya “berurusan” dengan darah. Sebetulnya itu bukan profesi saya untuk menanganinya. Tapi melihat darah keluar dari mata, hidung dan telinganya, sementara para dokter sedang sibuk mengurusi pasien lain, mau tidak mau saya menanganinya. Sebenarnya saya takut melihat luka. Tapi, Subhanallah, ketika saya mendengar pasien tersebut menjerit kesakitan karena lukanya, hilanglah rasa takut saya.

      Bagaimana dengan dua orang yang meninggal pada serangan 19 Nopember lalu?

      Waktu itu saya berdiri di jendela melihatnya. Saya waktu itu hanya terpekur, “Apa dosanya sehingga ia harus meninggal dengan cara seperti itu?” Apakah hukuman tersebut hanya karena ia melafalkan Allahu Akbar? Asal Anda tahu, bahwa revolusi ini dimulai dengan teriakan Allahu Akbar. Lalu akibatnya mereka diserang dengan roket, mortar, bahkan senjata kimia. Apakah itu semua akibat suatu “dosa” bernama Allahu Akbar? Kalau memang demikian, sesungguhnya kami justru bergembira dengan hukuman ini, karena pasti kami akan ditolong Allah.

      Bisa Anda sebutkan contoh tentara Bashar Asad menggunakan senjata kimia?

      Pesawat-pesawat tentara sering berputar di atas pemukiman membentuk asap memutar seperti jaring laba-laba. Kemudian ditemukan serbuk putih di pepohonan, dan setelah itu penduduk setempat merasakan gatal-gatal pada kulitnya. Hingga sekarang kami belum tahu bagaimana cara mengobatinya. Juga dalam kasus penyakit sesak nafas, dulu bisa kami tangani. Namun akhir-akhir ini ada beberapa kasus yang tidak kunjung sembuh meski telah kami tangani.

      Jadi ada penyakit aneh yang belum bisa Anda dan kawan-kawan medis tangani?
      Ya. Ada beberapa penyakit yang kami hanya bisa memberikan obat untuk meringankan efeknya saja, tidak sampai menyembuhkan.

      Sebelumnya pernah membayangkan terjadi revolusi seperti ini?

      Ketika terjadi revolusi di Tunis, saya sudah menduga hal serupa akan terjadi di Suriah. Namun saya tidak pernah menyangka kondisinya bisa setragis ini. Seringkali saya berharap,  apa yang kami alami ini hanyalah sekadar mimpi, bukan kenyataan.

      Anda Muslimah berhijab, kuliah di Lattakia. Pernah mengalami perlakuan buruk dari kaum Alawiyyin?

      Separoh penduduk Lattakia adalah kaum Alawiyin. Saya sekolah hingga semester V. Ada mahasiswa yang tingkat intelektualnya tidak lebih baik, namun mereka mendapatkan prioritas melebihi saya, karena saya Muslimah yang berhijab. Di Lattakia, kehidupan yang kami alami sebagai Sunni berbeda dengan Alawiyyin. Orang-orang Alawiyin hidup dengan segala kemapanannya. Sebaliknya, polisi bisa datang sekonyong-konyong untuk memeriksa kami orang-orang Sunni. Apa yang kami alami seperti itu mungkin tidak dirasakan oleh orang-orang di Damaskus atau lainnya. Mereka tidak pernah hidup bercampur bersama kaum Alawiyyin.

      Menngapa Anda memilih berada di tempat berisiko tinggi seperti di sini? Adakah keinginan pindah tempat aman misalnya Turki?

      Saya dulu tinggal dan bekerja di Turki selama seminggu. Pada saat itu pesawat tempur menyerang desa saya. Ketika saya pulang, orang-orang mengatakan, “Kenapa kamu pulang, padahal desa kita sedang diserang? Sudahlah, tinggal saja di Turki bersama suamimu.” Saya tidak sanggup hidup di Turki satu malam saja, sementara keluarga saya di kampung diserang. Tidak patut bagi saya untuk hidup mapan, sedangkan keluarga saya dihujani bom. Sampai saat ini, keluarga saya tidak pernah meninggalkan rumah. Pernah suatu ketika sebuah roket meledak persis di belakang rumah. Bagi kami hanya ada dua pilihan; mati di kampung sendiri atau Allah mendatangkan kemenangan.

      Dengan posisi seperti ini, apakah Anda merasa masuk DPO tentara Bashar Asad?
      Jelas. Saya yakin nama saya masuk dalam target mereka. Karena itu saya tidak mau mengambil ijazah. Saya hanya mempunyai kartu tanda kelulusan, tapi belum mengambil ijazah. Kalau saya ambil, mereka pasti menangkap saya.

      Yang kami dengar, paramedis menjadi salah satu target bunuh tentara pemerintah. Anda tidak takut?

      Iya, saya tahu bahwa mereka akan membunuh petugas medis yang ada di klinik-klinik seperti ini. Namun, kami yang ada di klinik ini, yang kami inginkan adalah mati syahid. Orang yang menginginkan mati syahid tidak akan pernah takut segala risiko. Selain itu, di sini kami dikelilingi oleh para mujahidin yang siang-malam beribath di pegunungan dalam rangka menjaga kami. Mereka tidak pernah meninggalkan tempat itu, meskipun kondisinya terkepung. Sampai misalnya Ramadhan kemarin ketika keadaan genting, mereka meminta kami untuk menjauh dari tempat ini. Mereka kemudian mengamankan kami di setiap jalan yang kami lalui supaya kami terhindar dari serangan roket.  Mereka mengkhawatirkan kami sebagaimana kami mengkhawatirkan mereka. Mereka tidak mungkin membiarkan kami diserang. Mereka mempertaruhkan nyawa demi keselamatan kami.

      Bagaimana peran istri secara umum dalam revolusi ini?

      Kami selalu diserang dan dihujani bom. Tetapi tidak pernah ada seorang istri meninggalkan suaminya lari untuk menyelamatkan diri sendiri dari serangan tersebut.  Anda bisa melihat mujahidin yang baru datang dari pertempuran. Kadang-kadang selama sepekan mereka hidup di alam terbuka bersama hewan-hewan dan curahan air hujan. Bukankah para mujahid itu sebenarnya bisa memilih hidup enak di rumahnya yang hangat bersama keluarganya? Kami tidak pernah lari dari kewajiban dalam jihad ini.

      Ada berapa muslimah yang khidmat di klinik ini?


      Di sini, saya bersama dr. Aisah. Dulu pernah ada seorang perawat, tapi dia belum menikah. Kami belum bisa menerima paramedis yang belum mempunyai mahram atau wali yang mendampinginya. Sebab, akan menambah beban kami bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, terlebih bila keberadaannya bersama kami belum memperoleh ijin dari keluarganya.

      Bagaimana reaksi keluarga terhadap pilihan amal Anda seperti ini?


      Dulu ketika teman Anda (tim ke 2 HASI) mendapat serangan udara, saya bersama mereka di sini. Waktu itu kita terkepung dalam asap, kepingan roket dan puing-puing reruntuhan. Saya sudah menduga ajal saya sampai di sini. Namun Alhamdulillah, kami masih selamat. Mungkin karena saking sayangnya, saat itu ibu saya bilang, “Sudahlah, jangan bekerja di klinik darurat itu lagi.” Tetapi ayah saya menegaskan, “Lakukanlah apa yang bisa kamu kerjakan. Tidak sepatutnya kamu berada di rumah, sedangkan orang-orang membutuhkan pertolonganmu.”
      Suami tentu mendukung, ya..

      Suami saya orang yang sangat istimewa. Saya akan selalu berada di sampingnya ketika datang serangan, di manapun. Saya tidak akan tinggalkan ia sendirian. Kalau ia turun ke bawah, saya akan turun. Tapi kalau ia tetap di sini, saya pun tetap bersamanya.

      Bagaimana pendapat teman-teman kuliah Anda?


      DI kuliah, saya tergabung dalam lima sekawan. Tentu, kawan saya dari Ahlussunnah. Saya sendiri di sini, sementara mereka ber-empat berada di Lattakia. Mereka iri dengan keberadaan saya di sini. Mereka berpesan, “Jaga dirimu baik-baik. Insya Allah kita akan bertemu. Tunggulah, kami akan datang menemuimu.”

      Kalau boleh tahu, dari mana Anda belajar prinsip jihad dan kematian seperti yang Anda ungkapkan di atas?

      Alhamdulillah, Allah memberikan saya keluarga yang paham agama. Ayah, ibu, kakak dan adik serta keluarga saya secara umum adalah orang yang punya komitmen terhadap agama. Sebelum timbul revolusi ini, saya sudah merasakan terzalimi sebagai orang Sunni. Saya duduk di bangku kuliah saya merasa terusik dengan kedzaliman Israel terhadap saudara Muslim saya di Palestina. Saya merasakan perasaan yang sama dengan mereka, bahwa musuh mereka adalah musuh saya juga. Sebagaimana orang-orang Alawiyin dari bangsa kami memusuhi kami.

      Palestina tidak pernah terlepas dari ingatan saya. Di sekolah saya mempunyai teman-teman Palestina. Saya mencintai mereka sebagaimana mencintai saudara sendiri. Kami sama-sama merasakan simpati Palestina. Saya berangan-angan mati di gerbang Al-Aqsha.

      Pesan untuk muslimah Indonesia?

      Saya mengharap kepada Muslimat di Indonesia untuk mendoakan kami dalam setiap shalat mereka. Kami sedang berada dalam kesulitan yang luar biasa, yang belum pernah kami rasakan sebelumnya. Bahkan saya tidak yakin ada kaum yang pernah merasakan kesulitan seperti yang kami rasakan seperti ini. Kami berada dalam didzalimi luar biasa. Kita berada dalam zaman, di mana Islam diserang dari segala penjuru. Saya berpesan agar Muslimah Indonesia dan keluarganya berpegang teguh kepada agamanya. Sesungguhnya tidak ada kemuliaan bagi kita kecuali dengan Islam. Jangan lupa mendoakan kami selalu. Alhamdulillah, meski kami dalam musibah besar, kami tidak lari dari Islam. Semoga apa yang kami lalui ini adalah langkah yang akan membawa kami ke pintu surga-Nya.

      Laporan Tim Ketiga Relawan HASI, Jabal Akrod Suriah
      red: shodiq ramadhan

      Sunni di Iran Penuh Tragedi, Sunni di Indonesia Jadi Sasaran Pula



      Wawancara dengan Hartono Ahmad Jaiz (Wartawan senior dan Penulis buku-buku Islam)

      Ada ulama sunni (Ahlus Sunnah) dari Iran yang diantar Dubes Iran di Jakarta, menjelaskan di kantor MUI (Majelis Ulama Indonesia) Pusat di Jakarta Senin (20/2 2012), katanya keadaan Muslimin Ahlus Sunnah di Iran, baik-baik saja. Bagaimana pendapat Anda?

      Bicara soal sunni di Iran, jelas penuh tragedi sejak Khumeini menang di Iran 1979. Para ulama sunni disembelihi atau dibunuh, masjid-masjid sunni dihancurkan, madrasah-madrasah sunni ditutup. Bahkan di Teheran, ibukota Iran, tidak ada masjid sunni sampai sekarang. Kalau Muslimin Ahlus Sunnah (Sunni) berjum’atan di hari Jum’at, maka khabarnya mereka ke kedutaan-kedutaan Negara-negara Islam di Teheran. Sedangkan sinagog Yahudi dan gereja Nasrani menurut berita-berita, di Teheran itu banyak. Ini apa artinya, permusuhan Syiah terhadap Islam jelas nyata, melebihi negeri-negeri yang sering orang sebut sebagai kafir sekalipun. Misalnya London ibukota Inggris. Bahkan ada surat kabar Barat sendiri menyebut “ada Mekkah” di London, karena setiap Jum’at, kaum Muslimin yang berjum’atan tidak tertampung, hingga mereka shalat di jalan-jalan yang membelah pergedungan tinggi di kawasan perkotaan.

      Anehnya, di Teheran negeri syiah, justru untuk mendirikan masjid sunni saja dihalangi. Sampai-sampai, syaikh Ali el Taskhiri seorang syaikh syiah Iran ditanya wartawan ‘El Syorouq’ di Al-Jaiazir, apa boleh sekarang ummat Islam Sunni mendirikan masjid di Teheran? Dijawab, sampai sekarang belum waktunya.

      Apakah ada beritanya yang konkrit?


      Ya ada. Sebagaimana diberitakan arrahmah.com dan lainnya ataupun sumber-sumber di luar negeri, tokoh spriritual Syiah, Ali el Taskhiri, Sekjen Perhimpunan Internasional Untuk Pendekatan Antar Mazhab Dalam Islam, menolak pembangunan sebuah masjid bagi kelompok SUNNI di ibukota IRAN, Teheran, sekalipun jumlah mereka di sana mencapai lebih dari 1 juta Muslim SUNNI.!!

      El Taskhiri beralasan, bahwa penolakan itu dikarenakan situasi dan kondisi (sikon) yang kurang kondusif untuk mendirikan masjid bagi kaum SUNNI.

      Dalam sejumlah keterangan yang disampaikannya kepada surat kabar ‘El Syorouq’ yang terbit di ALJAZAIR, ia mengatakan, sikonnya tidak memungkinkan untuk membangun masjid bagi Muslim SUNNI. Ia mengklaim, sebab penolakan itu bukan karena mereka itu adalah kelompok SUNNI tetapi hanya karena masalah teknis.!!

      Menjawab pertanyaan surat kabar ALJZAIR itu seputar kapan waktu yang kondusif menurutnya untuk pembangunan masjid bagi kaum SUNNI, ia mengatakan, “Sikon seperti ini pasti akan selalu dipertimbangkan dan dipelajari oleh setiap pemerintah dan baru akan melakukannya begitu momennya sudah tepat.”

      Sebelumnya, El Taskhiri telah melontarkan kritikan pedas terhadap Syaikh Yusuf Al Qaradhawi dengan menuduh yang terakhir telah memunculkan pertikaian di antara kaum Muslimin.

      Kritikan itu sendiri terkait dengan upaya Al Qaradhawi menyingkap rencana IRAN untuk menyebarkan paham Syiah di negeri-negeri Islam berpenganut SUNNI.

      Apakah ada buku mengenai para ulama Sunni di Iran yang dibunuhi pemerintah Syiah?


      Daftar nama-nama ulama sunni di Iran yang dibunuhi dan masjid-masjid sunni yang dihancurkan serta madrasah sunni yang ditutup ada di buku LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) di Jakarta. Sebelum tahun 2000 telah diterbitkan buku tentang ratusan ulama yang dibantai di Iran zaman kekuasaan Khumeini, dan masjid-masjid Ahlis Sunnah yang dihancurkan di Iran. Daftar nama para Ulama Sunni yang dibantai dan masjid-masjid Sunni yang dihancurkan itupun dicantumkan dengan jelas disertai riwayat singkatnya. Daftar kekejaman syiah di Iran itu ditulis dalam buku Kedholiman Syi’ah terhadap Ahlus Sunnah di Iran (Ma’satu Ahlis Sunnah fi Iran) oleh Abu Sulaiman Abdul Mun’im bin Mahmud al-Balusy, diterjemahkan dan diterbitkan LPPI Jakarta, 1420H/ 1999.

      Apakah agama lain selain Islam (sunni) juga dihancurkan tempat ibadahnya?

      Seperti saya sebutkan tadi, di balik kedholiman itu justru gereja Kristen ataupun sinagog Yahudi serta sekolahan-sekolahan Kristen pun ada di Teheran, tetapi masjid Ahlus Sunnah tidak boleh ada satupun di Teheran. Sehingga orang Islam (Sunni) apabila berjum’atan harus ke kedutaan-kedutaan Negara-negara Timur Tengah di Teheran. Itulah yang perlu sekali difahami, bahwa syi’ah lebih kejam dan tidak toleran terhadap Islam dibanding orang kafir sekalipun.

      Sebegitu ganasnya kebengisan Syi’ah di Iran terhadap para Ulama Sunni, Masjid-masjid Sunni; bahkan maraji’ (buku-buku rujukan/ referensi) Sunni pun dibersihkan alias dimusnahkan. Namun anehnya di Indonesia, perguruan tinggi Islam (negeri) dan Muhammadiyah justru menerima dengan welcome terhadap referensi dari Iran, bahkan Iran telah memiliki 12 Iranian Corner di perguruan-perguruan tinggi Islam (negeri) dan Muhammadiyah di Indonesia. Perpustakaan-perpustakan Iran di perguruan tinggi Islam di Indonesia yang berjumlah 12 tempat itu alhamdulillah telah dimusnahkan oleh Allah Ta’ala yang satu Iranian Corner yaitu di UMJ (Universitas Muhammadiyah Jakarta) ketika terkena musibah jebolnya tanggul Situ Gintung di Cierendeu Tangerang Banten, Jum’at shubuh, 1 Rabi’ul Akhir 1430H/ 27 Maret 2009.

      Rektor UMJ tampak meratapi karena kerugiannya mencapai 9-10 miliar rupiah, di antaranya Iranian Corner itu. Kalau memang dia sayang-sayang terhadap Islam Sunni, maka barangkali mau mengingat Allah, mengakui bahwa jelas di antara upayanya itu adalah menyuntikkan kesesatan dan penyesatan.
      Apakah penghancuran masjid masih berlangsung juga?

      Penghancuran masjid masih berlangsung?


      Sejumlah situs telah menyebutkan, masjid Abu Hanifah dan madrasah Qur`an yang dikelolanya di kota Zabil -di mana penduduknya adalah mayoritas SUNNI- telah dihancurkan akhir bulan Agustus lalu. Sementara tidak satu pun media-media massa resmi pemerintah menyoroti kejadian tersebut. Pun, belum ada satu informasi dikeluarkan terkait sebab-sebab dihancurkannya masjid dan madrasah tersebut, demikian pula dengan para pelaku aksi pengrusakan itu. Penghancuran Masjid SUNNI di Iran, nahimunkar.com, 31 Januari 2012 .

      Bahaya apa lagi yang diperkirakan akan merusak Ummat Islam terutama Indonesia?


      Di samping kekejaman dan keganasan itu mereka juga menyuntikkan ajaran sesat syiah lewat Iranian Corner yakni perpustakaan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Masih pula ada kejahatan  dari Iran berupa banyaknya penyelundupan narkoba yang sangat membahayakan.

      Dengan demikian, setidaknya ada empat cara paham sesat syi’ah menyerang umat Islam Indonesia. Pertama, melalui penetrasi budaya seperti Tabot atau Tabuik di Bengkulu dan Sumbar. Kedua, melalui penetrasi nikah mut’ah. Ketiga, penetrasi intelektual antara lain melalui lulusan Universitas Qom, Iran. Keempat, melalui penyelundupan narkoba.

      Bagaimana gambaran bahayanya narkoba dan ajaran nikah mut’ah yang diselundupkan dari Iran?


      Nikah mut’ah dan narkoba itu jelas membahayakan sekali. Salah seorang anggota Badan Penanggulangan Narkotika Iran, Fathimah Rustami, mengungkapkan bahwa pendataan terakhir yang dilakukan oleh lembaga nasional tersebut menemukan fakta bahwa jumlah pengguna narkotika di Iran mencapai 1,2 juta jiwa, dengan rata-rata usia mereka 32 tahun ke bawah. Jenis narkotika yang paling banyak dikonsumsi oleh para pelajar dan pemuda adalah heroin dan opium. Peningkatan pesat jumlah pecandu narkotika juga berakibat membengkaknya penderita Aids. Sebanyak 77,5 % penderita Aids dari kalangan pecandu narkoba atau sebesar 19435 orang, tertulari virus HIVS lewat jarum suntik. Inilah realita negeri para pecandu seks bebas atas nama kawin mut’ah. Jika seks bebas dilegalkan atas nama ajaran agama, Syiah Imamiyah, tentu narkotika dan miras menjadi bumbu penyedapnya. Jika penderita Aids akibat kecanduan narkoba sedemikian besarnya, bagaimana lagi dengan para penderita aids akibat seks bebas? Tentulah jumlahnya juga semakin besar. (muhib al-majdi/arrahmah.com, Selasa, 20 Desember 2011)

      Ada yang lebih dari itu?


      Ya.  Yang perlu diperhatikan betul, syiah itu adalah ancaman bagi Ummat Islam bangsa Indonesia ini. Seorang mantan pengikut Syi’ah, Roisul Hukama, pernah mengatakan bahwa Revolusi seperti yang terjadi di Iran, juga tengah dipersiapkan kalangan Syi’ah di Indonesia. Salah satunya dengan menanam kader-kader Syiah di berbagai ormas dan pemerintahan. Ini merupakan konspirasi global. Apalagi, doktrin Imamah merupakan suatu kewajiban bagi paham sesat Syi’ah ini, sehingga Imamah menjadi sesuatu yang wajib dan harus diperjuangkan.

      Mereka masih dalam jumlah kecil saja sudah berani mencaci sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pakai spiker.

      Apakah masalah besar ini sudah disadari oleh para ulama ataupun tokoh dan ormas Islam?

      Ya. Katib ‘Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Malik Madani, kepada hidayatullah.com, Kamis, (16/02/2012) mengemukakan beberapa hal tentang syiah.
      •    Sekarang sudah ada ormas-ormas resmi Syiah, mereka berani mencaci para Sahabat dan istri Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه Ùˆ سلم) di tempat umum dengan pengeras suara.
      •     Bahkan di Bondowoso, mereka sudah adzan versi Syiah dengan tambahan “Hayya ‘ala khairil amal”.
      •    Bahkan mereka juga mengatakan istri Nabi, A’isyah sebagai sayyidah-nya ahli nereka
      •    PBNU telah membuat instruksi dari tingkat pusat hingga ranting untuk membentengi umat, khususnya warga NU dari paham Syiah.

      Jadi bagaimana tentang pengakuan ulama sunni dari Iran yang didatangkan ke MUI dengan didampingi Dubes Iran di Jakarta itu?

      Ya, itu sudah dapat dibaca gelagatnya. Itu persekongkolan orang dalam MUI dengan syiah Iran, hingga seorang wakil sekjen MUI pun mengaku, “Asal tahu saja, diskusi ini, sesungguhnya adalah atas prakarsa Umar Syihab,” kata KH. Tengku sebagaimana dilansir situs voa-islam. Di dalam MUI memang ada yang bergerilya untuk “jualan” Syiah, paling kurang ada dua orang: Umar Shihab dan Muhyidin Junaidi. Makanya sampai pernah ditulis dalam situs: Syi’ah Memusuhi Islam Bersekongkol dengan Para Pengkhianat.

      Bagaimana ceritanya?


      Yang lebih menyedihkan terutama bagi Ummat Islam Indonesia, di saat Ummat Islam (Sunni) dimusuhi oleh syi’ah di pusatnya di dunia yakni Iran, justru oknum MUI (Majelis Ulama Indonesia) Pusat berbangga bekerjasama dengan Iran dalam bidang riset/ penelitian (agama). Surat kabar yang mewawancarainya (Republika) pun tampak membeberkan dengan lantangnya.

      Sebagian wawancara Republika dengan orang MUI sebagai berikut:
      MUI telah mencoba melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan organisasi-organisasi Islam di luar negeri.

      Beberapa waktu lalu, kami diundang ke Irak dan telah menandatangani kerja sama dengan Pusat Kajian Alquran di Irak yang berpusat di Karbala. Walaupun berbeda mazhab, kita ingin sama-sama sharing untuk meningkatkan metodologi hafalan Alquran. Kami bertemu dengan tokoh di Irak, baik Suni maupun Syiah. Bahkan, mereka sangat mengapresiasi kunjungan kita ke Irak di tengah-tengah situasi kemanan yang menurut berita internasional kurang kondusif.

      Kita ingin menjalin kerja sama dengan umat Islam walaupun berbeda aliran/mazhab. Kita sadar bahwa musuh-musuh Islam selalu berupaya melemahkan Islam dengan mengadu domba antara Syiah dan Sunni. Kita tak mau itu terjadi. Syiah itu tak seperti Ahmadiyah karena Syiah adalah mazhab yang diakui dunia Islam.

      (Pada bagian lain dikemukakan):

      MUI juga akan melakukan riset bersama di Iran tentang peradaban Islam. Mereka bisa melakukan riset mengenai peran MUI dalam merekatkan ukhuwah Islamiyah dan ormas-ormas Islam di Indonesia. (Republika, KH Muhyiddin Junaidi MA, Umat Harus Waspadai Konspirasi Musuh
      Minggu, 13 Februari 2011 pukul 11:47:00).

      Komentar Anda?

      Seharusnya, MUI jangan mudah ditunggangi oleh oknum-oknum yang membahayakan aqidah Ummat Islam demi kepentingan pribadi. Kalau caranya seperti itu, maka pertanggungan jawab kelak di akherat akan sangat berat. Sedang di dunia ini saja Ummat Islam tidak akan percaya. Sehingga mereka rugi dua, di dunia dan akherat, bila tidak bertaubat. Tetapi barangkali peringatan ini tampaknya tidak enak. Memang sebenarnya perkataan ini bukan nasihat tetapi protes keras. Harap difahami. Terimakasih. Semoga Allah meridhoi kami dan Ummat Islam yang teguh memegangi aqidah ahlus sunnah dan berjuang memberantas aliran sesat syiah dan semacamnya.

      Terimakasih atas kesediaan waktunya.

      Ya, sama-sama. Semoga bermanfaat dan diridhoi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Amien.

      KH. Ahmad Shobri Lubis: Persiapkan Generasi Rabbani




      Berawal dari rasa prihatin dengan kondisi masyarakat sekitar yang masih terbelakang dari segi pendidikan, lahirlah Yayasan Zahrotul Ilmi di Kampung Poncol, Desa Babakan, Ciseeng, Kabupaten Bogor. Lelaki yang masygul melihat masyarakat yang belum mampu mengecap pendidikan, banyak yang tak lulus pendidikan tingkat dasar, tak bisa baca tulis, apalagi membaca Al-Qur’an itu adalah KH. Ahmad Shobri Lubis (37).

      Awalnya putra dari pasangan H. Burhanudin Umar Lubis, MA dan Prof. Dr. Hj Nabilah Lubis, MA, guru besar UIN Syarif Hidayatullah, itu gemar mendatangi area milik orang tuanya di Parung, Bogor. Apalagi di sana terdapat lahan perikanan. Karena seringnya berinteraksi dengan warga masyarakat sekitar, akhirnya diketahuilah kondisi mereka yang sangat memprihatinkan. “Mereka banyak yang SD saja tak lulus, baca tulis latin tidak bisa. Apalagi membaca Al-Qur’an. Padahal wilayah ini dekat ibu kota negara”, kata Ketua Yayasan Zahratul Ilmi itu kepada Suara Islam.

      Sebagai seorang da’i dan putra dari pasangan pendidik, tentu saja Ustadz Shobri tergerak untuk membantu mereka agar mampu mendapatkan pendidikan yang mumpuni. Untuk merealisasikan cita-cita mempersiapkan generasi Islam yang Rabbani, teguh berakidah, berpola pikir dan bersikap Islami, pada tahun 2002 didirikanlah sebuah Taman Pendidikan al-Qur’an (TPQ). Warga antusias menyambutnya. Proses belajar mengajar memanfaatkan sebuah mushola keluarga yang dimiliki keluarga Ustadz Shobri.

      Setelah TPQ berjalan, kemudian didirikan pula majelis taklim ibu-ibu, yang mengajarkan keaksaraan fungsional di malam hari. Ibu-ibu sekitar dan juga remaja diajari membaca dan menulis Al-Qur’an. Kegiatan itu terus berjalan, hingga pada 2005, didorong antusiasme warga akhirnya didirikanlah Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT). Siswa angkatan pertama terkumpul 15 anak, dari putra-putri warga sekitar. Hingga saat ini, setalah lima tahun lebih berjalan siswa SDIT telah mencapai sekitar 150 anak.

      Kini, di atas area seluas 5 hektar yang sebagian besar masih berupa lahan perikanan dan pertanian itu bukan hanya berdiri TPQ dan SDIT, tetapi juga berdiri Pondok Pesantren An-Nur, Madrasah Diniyah (MD) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Satu Atap An-Nur. “Ke depan kita juga akan rintis Madrasah Aliyah (MA)”, kata Sekjen Front Pembela Islam (FPI) itu.
      Madrasah Tsanawiyah An-Nur didirikan sejak 2009 lalu. Siswanya kini berjumlah 55 anak dari dua kelas, kelas tujuh dan kelas delapan. Bukan hanya dari warga sekitar, siswa MTs An-Nur juga berasal dari luar Bogor seperti Medan, Flores, Lampung, Banten, Tasikmalaya dan Bandung. Semua jenjang pendidikan itu masih dalam proses akreditasi di Dinas Pendidikan.

      Di setiap jenjang pendidikan, diterapkan kurikulum yang menggabungkan antara ilmu umum (sains) dan ilmu agama (ulumuddin). “Kita ingin menghapus adanya dikotomi antara ilmu dunia dan akhirat”, jelas mantan Ketua Umum Komite Pembebasan Al-Aqsha (Haiah Tahrir Al-Aqsha) itu. Karena itu di sekolah ini diajarkan kepada siswa mata pelajaran akidah, akhlak, Ilmu dan Tahfizh Al-Qur’an, Ilmu Hadits, sejarah Islam dan Bahasa Arab. Bahkan untuk jenjang Tsanawiyah diberlakukan boarding school.

      Selain mata pelajaran umum dan ilmu-ilmu diniyah, siswa juga dibekali dengan keahlian-keahlian di bidang kewirausahaan melalui kegiatan ekstrakurikuler peternakan, perikanan dan pertanian. Kegiatan ekstrakurikuler lain yang dapat  diikuti siswa diantaranya Pramuka dan beladiri, Palang Merah Remaja (PMR). Para siswa juga dilatih kemampuan dua bahasa, bahasa Inggris dan bahasa Arab. Untuk membentuk karakter dan mental siswa, secara reguler diadakan camping (berkemah) dan outbond.

      Dari sisi tenaga pengajar, Yayasan Zahrotul Ilmi telah menyediakan staf-staf dan tenaga pengajar yang mumpuni di bidangnya. Sumber daya manusia pengelola dan staf pengajar di semua jenjang pendidikan adalah para alumni perguruan tinggi dalam dan luar negeri. Sekarang jumlah tenaga pengajar berjumlah 18 orang. Para guru itu hingga saat ini juga masih terus mendapatkan penempaan ilmu. “Kami selalu berupaya meningkatkan kualitas keilmuan tenaga pengajar”, kata Ustadz Shobri yang pernah mengikuti Program bahasa di Universitas Al-Azhar, Mesir itu.
      Untuk kelancaran proses belajar mengajar, pihak yayasan telah membangun ruang belajar, masjid, majelis ta'lim, lab biologi untuk MTs,  lapangan olah raga dan asrama putra dan putri untuk santri tingkat MTs. Untuk jenjang pendidikan dasar (SDIT), ruangan yang dimiliki saat ini, tidak mampu menampung jumlah siswa yang mendaftar. Pihak yayasan sedang mengupayakan untuk membangun kelas-kelas baru.
      Bagaimana bila ada calon siswa yang berminat belajar di sana, tetapi tidak mampu?. Ustadz Shobri menjawab, pihaknya akan mengupayakan memberikan beasiswa kepada para anak yatim. "Sehingga cita-cita mulia kami untuk memajukan pendidikan di tempat ini dan membentuk generasi rabbani dapat tercapai", jelasnya. (shodiq ramadhan)

      Yayasan Zahrotul Ilmi
      Penyelenggara TPQ, MD, MI Terpadu, MTs SA (Boarding School)
      Pendaftaran: Jl. Amd RT. 02/06 Kp. Poncol, Desa Babakan, Kec. Ciseeng, Bogor 16330
      Telp. 0251-9148043, 081 707 67971, 081213109845, 083873562191.

      Musthofa Kemal Pasha, Psikopat Penghancur Khilafah Islam Turki




      Maryam Jameelah
      Aktivis Jemaat el-Islami Pakistan, disadur dari buku "Islam and Modernisme" karya Maryam Jameelah

      Musthafa Kemal lahir pada tahun 1881 di sebuah kawasan miskin di Salonika, Turki. Ayahnya, Ali Riza, adalah seorang bekas pegawai rendahan di kantor pemerintah. Setelah mengalami dua kali kegagalan dalam bisnisnya, Ali Riza tenggelam dalam dunia hitam, menjadi peminum sebagai kompensasi kesedihannya. Hingga akhirnya ia mati akibat penyakit tuberkulosis saat Musthafa masih berumur tujuh tahun.

      Ibu Musthafa, Zubaida –seorang wanita yang buta huruf– menjadi ibu sekaligus kepala rumah tangga. Berbeda dengan suaminya, Zubaida adalah seorang muslim yang taat. Sebagaimana wanita-wanita Turki pada masa itu, seluruh hidupnya difokuskan untuk masa depan anak laki-lakinya yang tertua, Musthafa. Karena ketaatannya kepada Islam, ia mengharapkan Musthafa menjadi ulama yang faqih.

      Namun ternyata Musthafa mempunyai pendirian yang berbeda. Musthafa tumbuh menjadi remaja pemberontak. Ia melawan segala bentuk peraturan, serta bersikap kasar dan kurang ajar kepada gurunya. Di depan para siswa yang lain, ia menunjukkan sifat yang sangat arogan dan suka menyendiri. Ia tidak mau bermain bersama teman-temannya, sehingga tumbuh menjadi pribadi yang tidak disukai teman-temannya. Bila merasa diganggu, ia tak segan-segan menggunakan kekerasan untuk melawan.

      Suatu kali, karena sikap kasar dan kurang ajar Musthafa, gurunya menjadi gelap mata dan memukuli Musthafa sedemikian keras hingga melukai perasaannya. Musthafa lari dari sekolah dan tidak mau kembali. Meski ibunya berusaha keras membujuk agar kembali ke sekolah, Musthafa sama sekali menolaknya. Zaubaida merasa putus asa, sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukan. Akhirnya, datang usulan dari salah seorang pamannya agar memasukkan Musthafa ke sekolah militer di Salonika. Usulan ini berdasarkan pertimbangan bahwa Zubaida tidak perlu mengeluarkan biaya pendidikan –karena sekolah militer itu dibiayai oleh negara; lalu apabila Musthafa bisa menunjukkan prestasi yang bagus, ia bisa menjadi seorang perwira; dan kalaupun tidak ia tetap akan menjadi seorang prajurit. Singkat kata, apa pun yang akan terjadi, kehidupan Musthafa tetap terjamin.

      Meskipun Zaubaida tidak sepakat dengan usul tersebut, namun ia tidak bisa menghalangi Musthafa –yang pada saat itu masih berusia 12 tahun– meminta salah seorang kenalan ayahnya untuk membantunya masuk ke sekolah militer. Musthafa mengikuti seleksi dan lulus menjadi seorang kadet. Di sekolah militer inilah, Musthafa menemukan dunianya. Dia mampu menunjukkan prestasi akademik yang bagus, sehingga salah seorang pengajar memberinya julukan “Kemal” yang berarti “kesempurnaan”. Karena kepandaiannya dalam bidang matematika dan pengetahuan kemiliteran, Musthafa dipromosikan sebagai staf pengajar. Di posisi ini, Musthafa mempunyai kesempatan mempertunjukkan kekuasaannya. Setelah berhasil mendapatkan nilai tertinggi dalam ujian akhir, Musthafa lulus dengan gelar kehormatan pada bulan Januari 1905 dengan pangkat Kapten.

      Pada saat itu, Musthafa bergabung dengan suatu perkumpulan mahasiswa nasionalis yang fanatik, yang dikenal dengan nama Vatan atau “Tanah Air”. Para anggota Vatan menganggap diri mereka kelompok yang revolusioner. Mereka sangat menentang pemerintahan Sultan Hamid II, yang memberangus segala pemikiran “liberal” yang merongrong pemerintahan Islam. Kelompok ini tak jemu-jemunya menyalahkan Islam yang dianggap sebagai penyebab keterbelakangan Turki dan terus menerus menyebarkan kebencian terhadap syariat yang dianggap kolot, serta menjadikan ajaran-ajaran sufi sebagai bahan tertawaan. Para anggota Vatan bersumpah akan melengserkan Sultan dan menggantinya dengan sistem pemerintahan ala Barat lengkap dengan konstitusi dan parlemen, menghancurkan otoritas para ulama, menghapuskan purdah (jilbab) dan kerudung, serta mendeklarasikan kesetaraan yang mutlak antara laki-laki dan perempuan. Tidak lama bergabung, Musthafa menjadi pimpinan kelompok itu.

      Kesempatan bagi Musthafa Kemal untuk memperluas pengaruh akhirnya datang. Begitu Sultan Abdul Hamid II diturunkan oleh Partai Turki Muda pada tahun 1908, Komite Persatuan dan Kemajuan mengundangnya untuk bergabung bersama. Namun, sebagai pendatang baru, ia diwajibkan untuk melaksanakan sejumlah perintah dari pimpinan organisasi, sedangkan sifat dasarnya menuntut agar dialah yang menjadi pemimpin. Akibatnya, Musthafa merasa gelisah dan tidak puas. Ia sama sekali tidak menghargai anggota-anggota lainnya, yang dianggap sebagai penghalang keinginannya. Ia sangat membenci Perdana Menteri Pangeran Said Halim Pasha (1865 – 1921) dan Menteri Perang, Anwar Pasha (1882 – 1922), yang seringkali menentang pendapat-pendapatnya.

      Selama sepuluh tahun berikutnya, ia kembali menekuni bidang kemiliteran sebagaimana sebelumnya. Perlahan-lahan, berkat kepribadiannya yang keras dan kecerdasannya, ia merengkuh semakin banyak kekuasaan politik. Ia menghabiskan malam-malamnya dengan mengadakan rapat-rapat rahasia untuk merencanakan kudeta, yang diharapkan dapat menghasilkan kekuasaan absolut baginya.

      Kesempatan mulai terbuka, ketika pada akhir Perang Dunia I ia memimpin pasukan pertahanan Turki melawan Pasukan Sekutu Eropa yang ingin memecah belah kekuatan “The Sickman of Europe” dan menghancurkannya dengan cepat. Dengan usaha-usahanya merintangi penjajahan Sekutu dan membangkitkan semangat rakyat untuk berjuang sampai mati demi tanah airnya, Musthafa menjadi pahlawan nasional. Pada saat Yunani berhasil dikalahkan dan Turki memperoleh kemenangan, rakyat Turki mabuk kemenangan dan memuja Musthafa Kemal sebagai Sang Penyelamat. Rakyat Turki memberinya gelar al-Ghazi, yang berarti “Pembela Kebenaran”. 

      Berbagai pengakuan dari para diplomat asing semakin meneguhkan kedudukan Musthafa sebagai pahlawan Turki melawan Penjajah Barat. Di depan para politisi Arab, Musthafa berkata, “Saya tidak percaya dengan federasi negara-negara Islam maupun liga bangsa Turki di bawah kekuasaan Soviet. Tujuan saya satu-satunya adalah melindungi kemerdekaan Turki dalam batas-batas alaminya, bukan membangkitkan ke-Khilafahan Utsmaniyah atau ke-Khilafahan lain. Jauh dari segala mimpi dan bayangan-bayangan! Mereka (ke-Khilafahan) telah banyak merugikan kita di masa yang lalu!”

      Kepada delegasi komunis yang meminta dukungannya, Musthafa Kemal dengan jelas menyatakan, “Tidak ada penindas atau yang tertindas. Yang ada hanyalah mereka yang membiarkan diri mereka ditindas. Bangsa Turki bukan termasuk bangsa seperti itu. Bangsa Turki dapat mengurus dirinya sendiri. Biarkan bangsa lain mengurus diri mereka sendiri. Kami punya satu prinsip, yaitu melihat segala permasalahan dari kacamata bangsa Turki dan melindungi kepentingan nasional Turki.”

      Musthafa Kemal menyatakan keinginannya untuk membangun Turki dalam batas-batas alamiahnya menjadi suatu bangsa yang kecil namun kompak, sejahtera, dan modern, yang dihormati oleh negara-negara lain di dunia. Ia begitu yakin dirinya –dan hanya dirinya– yang mampu mewujudkan cita-cita tersebut. Ia pernah menyatakan, “Saya adalah Turki! Menghancurkan saya sama artinya dengan menghancurkan Turki!”
      Tidak lama setelah berkuasa, Musthafa menyatakan dengan tegas bahwa ia akan menghancurkan seluruh puing reruntuhan Islam dalam kehidupan bangsa Turki. Hanya dengan mengeliminasi segala sesuatu yang berbau Islam, Turki bisa memperoleh “kemajuan” menjadi bangsa yang dihormati dan modern. Tanpa rasa takut dan ragu, ia menyerang Islam dan pilar-pilar Islam:

      “Selama hampir lima ratus tahun, hukum dan teori-teori ulama Arab serta tafsir para pemalas dan tiada guna telah menentukan hukum perdata dan pidana Turki. Mereka menetapkan konstitusi, rincian aturan hidup orang Turki, makanannya, waktu-waktu bangun dan tidurnya, bentuk busananya, rutinitas isteri yang melahirkan anak-anak mereka, apa yang dipelajari di sekolahnya, adat istiadatnya, pemikiran-pemikirannya, bahkan sampai perilaku mereka yang paling pribadi. Islam –teologi Arab yang immoral itu– adalah benda mati. Bisa saja Islam cocok untuk suku-suku di padang pasir. Tetapi Islam tidak bermanfaat untuk negara yang modern dan maju. Wahyu Tuhan, katanya! Tidak ada itu wahyu Tuhan! Islam hanyalah rantai yang digunakan para ulama dan penguasa tiran untuk membelenggu rakyat. Penguasa yang membutuhkan agama adalah orang yang lemah. Orang yang lemah tidak boleh berkuasa!”

      Ketika Abdul Majid diangkat sebagai Khalifah, Musthafa Kemal Pasha menolak melakukan upacara tradisi yang biasa dilakukan. Ketika Dewan menemuinya untuk membahas hal itu, Musthafa memotong pembicaraan, “Khalifah tidak memiliki kekuasaan atau kedudukan apa pun, kecuali sebagai figur seremonial saja.” Ketika Abdul Majid menulis petisi untuk meminta kenaikan biaya operasionalnya, Musthafa menjawab, “Khalifah, kantor anda tidak lebih adalah peninggalan sejarah. Tidak ada dasar hukum yang melandasinya. Sungguh tidak sopan anda berani menulis surat kepada sekretaris saya!”
      Pada tanggal 3 Maret 1924, Musthafa mengajukan Undang-undang untuk menghapuskan Khalifah selamanya dan mendirikan negara sekuler Turki. Namun demikian, sebelum UU tersebut diperkenalkan, ia telah berusaha membungkam suara-suara penentangnya dengan memberikan ancaman hukuman mati bagi orang-orang yang mengritik segala tindakannya.

      “Apa pun konsekuensinya, negara republik harus ditegakkan…Khilafah Utsmaniyah adalah bentuk negara yang tidak masuk akal atas dasar pondasi agama yang rusak. Khalifah dan keluarga Utsmani lainnya harus diusir. Peradilan dan hukum-hukum agama yang kolot harus diganti dengan hukum sipil modern. Sekolah agama harus dijadikan sekolah negeri yang sekuler. Negara dan agama harus dipisahkan. Republik Turki harus menjadi negara yang sekuler.”

      Akhirnya, Undang-undang berhasil disahkan tanpa perdebatan dan Khalifah beserta keluarganya harus diasingkan ke Swiss. Rezim baru pun menetapkan: “Pembukaan Konstitusi (baru) Turki menyatakan kebulatan tekad untuk melaksanakan reformasi bangsa Turki, sedangkan Pasal 153 melarang segala bentuk upaya yang menghalangi proses reformasi tersebut. Dinyatakan bahwa, ‘Tidak ada ketentuan dalam konstitusi ini yang menganggap tidak sah berbagai undang-undang berikut ini yang bertujuan membangkitkan bangsa Turki menuju peradaban masa kini, serta untuk menjaga karakter sekuler negara yang telah ditetapkan konstitusi melalui pemilihan umum:
      1.    Undang-undang tentang penyatuan (dan sekulerisasi) pendidikan pada tanggal 3 Maret 1924.
      2.    Undang-undang tentang penutup kepala, pada tanggal 25 November 1925.
      3.    Undang-undang tentang penutupan biara dan kuburan para darwis, penghapusan kantor penjaga makam, dan peraturan tentang penghapusan dan pelarangan gelar-gelar tertentu pada tanggal 30 November 1925.
      4.    Peraturan sipil tentang pernikahan pada tanggal 17 Februari 1926.
      5.    Undang-undang tentang pengambilan angka internasional pada tanggal 20 Mei 1928.
      6.    Undang-undang tentang pengambilan dan penerapan alfabet (latin) Turki serta pelarangan tulisan Arab, pada tanggal 1 November 1928.
      7.    Undang-undang tentang penghapusan gelar-gelar dan sebutan seperti Efendi, Bey, atau Pasha pada 26 November 1934.
      8.    Undang-undang tentang larangan memakai busana tradisional pada 3 Desember 1934.

      Segala bentuk pengingkaran terhadap gerakan Ataturkisme tidak dimungkinkan dan tidak dapat dipahami oleh masyarakat. Tidak dimungkinkan karena konstitusi melarangnya, dan tidak dapat dipahami karena orang-orang Turki, baik tua maupun muda, telah menerima segala konsekuensi reformasi, dan westernisasi tetap menjadi kata-kata ajaib yang menjanjikan kehidupan yang lebih sejahtera.”

      Pada masa reformasi tersebut, Musthafa Kemal mengawini seorang wanita cantik dengan latar belakang pendidikan Eropa bernama Latifa. Pada masa perjuangan Turki, Latifa didorong oleh Musthafa untuk mengenakan pakaian seperti laki-laki dan menuntut kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Namun, ketika ia bersikap tegas dan bersikeras minta diperlakukan dan dihormati sebagaimana mestinya seorang isteri, Musthafa dengan kasar segera menceraikan dan mengusirnya. Setelah bercerai dari Latifa, ia menjadi lelaki yang tak tahu malu dan tak mengenal batas. Musthafa menjadi peminum berat dan tidak bisa lepas dari minuman keras. Sejumlah lelaki muda yang tampan menjadi objek pemuas syahwatnya. Demikian pula para istri dan anak perempuan dari para pendukungnya menjadi korban agresivitas nafsunya. Hingga tak lama kemudian penyakit kelamin menggerogoti kesehatannya.

      Ketika menggambarkan kepribadiannya, H.G. Armstrong –pengarang The Grey Wolf– menulis: “Musthafa selalu menjadi seorang penyendiri, soliter, dan suka bekerja sendirian. Tak seorang pun yang dipercayainya. Dia tidak ingin mendengar pendapat yang bertentangan dengan keinginannya. Dia tidak segan mencemooh orang lain yang berani menentang pendapatnya. Dia menilai setiap tindakan hanya berdasarkan kepentingan pribadinya. Ia juga sangat pencemburu. Seorang yang cerdas dan memiliki kemampuan dipandang sebagai bahaya yang harus segera disingkirkan. Musthafa suka mencela kemampuan orang lain, dan biasa mencemarkan nama baik dan mencemooh tindakan orang lain dengan ganas, sekalipun terhadap para pengikutnya sendiri. Ia jarang mengucapkan kata-kata yang manis, dan kalaupun diucapkan pasti dilakukan secara sinis. Dia tidak pernah mempercayai siapa pun dan tidak mempunyai seorang pun teman dekat. Teman-temannya hanyalah beberapa orang fasik yang biasa minum bersama, menjadi kaki tangannya, dan setia mendengarkan kesombongannya. Semua orang yang terhormat, yang pernah bekerjasama dengannya pada masa perjuangan kemerdekaan, telah berubah memusuhinya.”

      Sebagaimana para diktator yang enggan memiliki lawan, Musthafa Kemal selalu menggunakan kesempatan untuk menghancurkan lawan-lawan politiknya.

      “Polisi rahasia bekerja secara efektif. Melalui penyiksaan, pemukulan, atau cara apa pun yang dikehendaki, polisi harus mendapatkan bukti yang cukup memberatkan untuk menangkapi para pemimpin kelompok oposisi. Pengadilan otonom diterapkan kepada mereka, sehingga tanpa prosedur atau bukti yang kuat pengadilan bisa menjatuhkan hukuman gantung kepada mereka.

      Surat permohonan hukuman mati dikirimkan kepada Musthafa Kemal di rumahnya di Khan Kaya untuk mendapatkan tanda tangan persetujuan. Salah satu surat permohonan hukuman mati diperuntukkan bagi Arif, yang setelah berdebat dengan Musthafa Kemal kemudian bergabung dengan kelompok oposisi. Arif, sebelumnya adalah pengikut loyal Musthafa, yang bahu-membahu pada masa perjuangan kemerdekaan. Arif adalah satu-satunya teman yang pernah menjadi tempat Musthafa mengungkapkan isi hatinya. Diriwayatkan bahwa ketika surat permohonan hukuman mati bagi Arif itu disampaikan kepadanya, air muka Musthafa sama sekali tidak berubah. Dia tidak memberikan catatan-catatan yang meringankan atau kelihatan ragu-ragu. Saat itu, ia tengah merokok. Kemudian dia meletakkan rokoknya ke asbak, dan menandatangani surat permohonan hukuman mati itu sebagaimana ia menandatangani surat-surat rutin lainnya yang datang setiap hari . . .

      Musthafa ingin membuat segalanya berjalan dengan sempurna. Pada malam itu juga, ia mengadakan pesta dansa di Khan Kaya. Setiap orang harus datang –para hakim, anggota kabinet, para duta besar, menteri luar negeri, para bangsawan, dan semua perempuan cantik. Singkatnya, seluruh Ankara harus ikut merayakannya……

      Pesta dansa itu dimulai dalam suasana muram. Dengan busana malam buatan seorang penjahit London yang sangat necis, al-Ghazi berdiri di sudut, tengah bercakap-cakap dengan seorang diplomat. Para tamu menatapnya penuh perhatian. Sebelum ia mendapatkan mood-nya untuk mulai berdansa, para tamu harus mengatur langkahnya dengan hati-hati serta bercakap-cakap dengan suara yang rendah. Amat berbahaya menunjukkan sikap suka-cita, sementara ia tengah dalam suasana hati yang murung. Namun malam itu al-Ghazi sedang bersemangat. Dirinya tidak sedang menjalankan tugas-tugas kenegaraan. Malam itu adalah malam untuk bergembira.

      “Kita harus bersuka cita! Kita harus hidup, harus hidup!” teriaknya, sambil merengkuh seorang wanita asing dan segera berdansa dengannya.

      Para tamu mengikutinya. Mereka berdansa –bila tidak, al-Ghazi akan memaksanya. Al- Ghazi sedang berada dalam suasana hati yang paling baik; berdansa berkeliling bersama pasangan-pasangannya dengan langkah-langkah yang panjang dan memberi minum kepada mereka pada saat-saat jeda.

      Empat mil jauhnya dari Ankara, sebuah lapangan besar diterangi dengan cahaya putih yang berasal dari selusin lampu listrik. Di sekelilingnya dan di jalan-jalan berkerumun para warga masyarakat. Di bawah siraman cahaya lampu, tegak berdiri sebelas tonggak kayu yang besar tepat dibawah tembok penjara. Di bawah masing-masing tonggak kayu, berdiri seseorang dengan tangan terikat ke belakang dan seutas tali melingkar di batang lehernya. Merekalah para musuh politik Musthafa Kemal yang siap menerima kematiannya.

      Di tengah keheningan, secara bergiliran para terpidana diberi kesempatan untuk menyampaikan sesuatu kepada masyarakat. Ada yang berpuisi, ada yang berdoa, ada pula yang menangis mengiba sembari berteriak bahwa ia adalah warga Turki yang setia.

      Di Khan Kaya, hampir seluruh tamu telah pulang. Ruangan tersebut pengap dengan asap rokok, bau minuman keras, dan bau busuk nafas orang yang mabuk. Lantainya kotor dengan abu rokok, sedangkan kartu judi dan uang bertebaran di meja-meja.

      Musthafa Kemal berjalan melintasi ruangan dan memandang keluar jendela. Wajahnya dingin dan berwarna kelabu; matanya yang pucat tidak menyiratkan ekspresi apa pun. Dia tidak menunjukkan keletihan, sedangkan jasnya tetap rapi seperti sediakala. Komisaris Polisi melaporkan bahwa eksekusi telah berakhir. Tubuh-tubuh di tiang gantungan perlahan menjadi kaku. Akhirnya, ia menjadi pemenang. Musuh-musuhnya terusir, hancur, atau mati.”

      Sementara itu, gemuruh kaum oposisi Turki mulai menderu. Gemuruh itu akhirnya meledak pada tahun 1926, ketika suku-suku Kurdi di pegunungan melancarkan pemberontakan bersenjata melawan rezim Kemalis. Musthafa tidak membuang-buang waktu. Seluruh suku Kurdistan di Turki dibinasakan dengan cara yang bengis, desa-desa dibakar, ternak dan hasil panen dihancurkan, perempuan dan anak-anak diperkosa dan dibantai. Empat puluh enam kepala suku Kurdi digantung di depan umum. Yang terakhir adalah Syaikh Said, sang pemimpin suku Kurdi. Sebelum dieksekusi, ia mengatakan kepada eksekutornya, “Saya tidak punya kebencian kepada anda. Anda dan atasan anda, Musthafa Kemal, membenci Tuhan! Kami harus menyelesaikan tanggung jawab kami di hadapan Tuhan pada Hari Pembalasan.”

      Sekarang Musthafa Kemal menjadi diktator absolut. Rakyat Turki harus menerima reformasi anti-Islam, seperti larangan mengenakan fez/tarbus (kopiah Turki) dan sorban, wajib mengenakan busana Eropa, wajib menggunakan aksara Latin, kalender Kristen, dan menjadikan hari Ahad sebagai hari libur. Semua itu ditetapkan di bawah ancaman pedang. Ribuan ulama dan para pengikutnya rela mengorbankan jiwa mereka daripada menerima kehancuran segala sesuatu yang mereka sucikan. Tidak berlebihan kiranya bila dikatakan bahwa penerimaan rakyat Turki terhadap reformasi ala Musthafa Kemal hanyalah khayalan belaka. Besarnya penolakan dapat dibayangkan dari fakta bahwa Musthafa mengumumkan keadaan perang sebanyak sembilan kali. Jutaan rakyat Turki, terutama di desa-desa dan kota-kota kecil, menghinakan dan mengutuk Musthafa Kemal.

      Pada tahun 1932, Musthafa Kemal menetapkan agar setiap warga Turki mencantumkan nama keluarganya sebagaimana biasa terdapat pada masyarakat Eropa dan Amerika. Ia memilih menggunakan nama “Attaturk” yang berarti “Bapak Turki”. Enam tahun kemudian, kesehatannya benar-benar memburuk, dan akhirnya mati karena penyakit radang hati yang disebabkan karena kecanduan alkohol.

      “Kategori ‘pribadi psikopatik’ digunakan untuk menyebut keranjang sampah segala macam penyakit jiwa. Orang-orang yang termasuk dalam golongan itu bukanlah para psikotik, psikoneurotik, bukan pula orang yang lemah ingatan. Golongan itu sama sekali berbeda. Psikopat tidak sama dengan psikotik, tidak “gila”. Ia tahu dimana ia berada, siapa dia, jam berapa sekarang. Ia hidup di dunia nyata, bukan hidup di alam fantasi psikosis. Tetapi sindrom psikopatik menguasai seluruh kepribadiannya sebagaimana pada psikosis. Para psikopat tidak bodoh, bahkan tidak jarang mempunyai kecerdasan di atas rata-rata. Emosinya-lah yang mengalami kerusakan, begitu pula moral atau ‘sifatnya’. Ia bersikap dingin, menyendiri, tidak terjangkau, menunjukkan sikap yang berbeda dengan orang kebanyakan, bahkan memusuhi orang lain.
      Secara intelektual, ia ‘mengetahui’ konsekuensi tindakan kriminal yang dilakukannya bagi dirinya maupun orang lain, tetapi ia tidak mampu ‘merasakan’ konsekuensi itu secara emosional, sehingga tidak berusaha menahan diri dari perbuatan itu. Ia tidak pernah merasa menyesal atau bersalah. Bila dia adalah seorang pembunuh yang tertangkap, ia tidak pernah menyesali pembunuhan itu, namun justru menyesali diri kenapa ia sampai tertangkap. Psikopat biasa berprofesi sebagai pembunuh bayaran; baginya membunuh adalah sesuatu yang sama sekali tidak berarti. Ia menolak bersosialisasi, dan menentang segala peraturan atas dirinya. Selamanya ia akan bersikap memberontak, tidak mampu menjalin hubungan emosional dengan orang lain secara permanen. Kehidupan seksualnya bersifat acak dan untung-untungan; orientasinya adalah kenikmatan seksual bagi dirinya sendiri, bukan bagi pasangannya. Tidak ada data statistik yang akurat tentang jumlah psikopat yang dikurung dalam penjara, namun tidak ada yang meragukan bahwa di antara mereka adalah orang-orang yang paling berbahaya bagi kehidupan manusia. Itulah kenapa penjara penuh dengan orang-orang seperti itu.”

      Gambaran itu sama persis dengan kepribadian dan sifat-sifat Musthafa Kemal. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa ia adalah pribadi yang terkenal, yaitu sebagai diktator, sehingga tidak ada seorang pun yang mampu mencegahnya berbuat kriminal dalam skala nasional.

      Pihak yang paling sering menunjukkan penghargaan atas kediktatoran Musthafa adalah para intelektual dan politisi di Amerika. Kaum Yahudi dalam kalangan tersebut secara sangat antusias memberikan pujian kepadanya. Bagaimana mungkin tradisi kebebasan berpolitik dan demokrasi yang diklaim bangsa Amerika sebagai sistem yang terbaik dapat bergandengan tangan dengan kekejian diktator Musthafa Kemal. Ini merupakan sesuatu yang tidak dapat dipahami, sampai para pemerhati politik internasional menyadari bahwa penghargaan demokrasi Barat atas hak asasi manusia hanya terbatas untuk kalangan mereka sendiri. Tanpa maksud-maksud tertentu, konsep HAM itu tentu tidak akan diekspor di kalangan kaum Muslim. Pernyataan-pernyataan resmi dari USIS (Lembaga Informasi Amerika Serikat) pada masa Perang Dingin menunjukkan bahwa mereka tidak pernah ragu mendukung rezim-rezim otoriter sepanjang tidak berafiliasi dengan blok Komunis. Kediktatoran, dalam pandangan mereka, bisa diterima apabila menjadi sarana menuju modernisasi (baca: kapitalisme) negara.  Rakyat di negara-negara berkembang adalah orang-orang yang terbelakang, kolot, bodoh, dan buta huruf. Hanya “pemerintahan yang bijaksana”-lah yang mampu menentukan apa yang terbaik buat mereka. Westernisasi adalah hal yang paling baik, dan tidak ada nilai-nilai moral yang dipandang terlalu mahal untuk dikorbankan dalam rangka menuju westernisasi. Oleh karena itu, apa pun caranya –termasuk tiran yang paling kejam sekalipun– akan mendapat restu dari Amerika dan demokrasi Barat, sepanjang cara tersebut dapat mempercepat pemisahan negara dari ideologi Islam.

      Apakah tujuan Kemalisme? Jawabannya dapat ditemukan dalam buku yang baru-baru ini ditulis oleh seorang diplomat yang sangat terkenal. Ketika menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat perkotaan Turki saat ini dan dibandingkan dengan kehidupan pada masa lima puluh tahun sebelum masa Musthafa Kemal, dengan penuh suka cita ia menyatakan bahwa hanya jenis makanan saja yang tidak berubah. Setelah mengulas keberhasilan “emansipasi” di kalangan para isteri dan anak-anak perempuan sesuai dengan konsep Barat, serta pembicaraan sehari-sehari pada saat makan bersama tentang pesiar di hari Minggu, nonton bioskop, atau makan malam di restoran, dan berbagai “kebiasaan baru dalam kehidupan keluarga Turki” lainnya, ia –dengan penuh kemenangan– menyatakan bahwa, “Urusan agama tidak pernah terlintas dalam benak mereka, kecuali pada bulan Ramadhan, ketika kakek-kakek dan bibi mereka yang tua tengah berpuasa.”

      Referensi:
      Islam and Modernism, Maryam Jameelah, Mohammad Yusuf Khan and Sons, Lahore, 1965/1988
      The Emergence of Modern Turkey, Bernard Lewis, Oxford University Press, London, 1961
      Conflict of East and West in Turkey, Halide Edib, Syaikh Muhammad Ashraf, Lahore, 1935
      The Grey Wolf, H.C. Armstrong, Capricorn Books, New York, 1961

      Subscribe To RSS

      Sign up to receive latest news

       
      Thanks to FADHLURRAHMAN From Otam Farrell