-->

    • >
    • Showing posts with label Perpecahan Umat. Show all posts
      Showing posts with label Perpecahan Umat. Show all posts

      02 July 2014

      RU'YAT LOKAL MENIMBULKAN PERPECAHAN UMAT



      Penetapan 1 Syawal Berpotensi Berbeda

      REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Perayaan 1 Syawal 1432 H berpotensi berbeda. Perbedaan itu dipicu oleh penggunaan kriteria hilal yang barbeda sebagai acuan penetapan awal bulan tersebut.
      Hal ini disampaikan oleh peneliti senior Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, Thomas Djamaluddin kepada Republika di Jakarta, Ahad (21/8)
      Bagi kalangan yang menggunakan kriteria wujudul hilal (hilal wujud di atas ufuk dengan prinsip wilayatul hukmi Indonesia), maka dipastikan Idul Fitri jatuh pada tanggal 30/8 .
      Namun, bagi kalangan yang memakai kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat), maka besar kemungkinan berhari raya pada 31/8. Pasalnya, ketinggian bulan pada 29/8 kurang dari 2 derajat sehingga tak memungkinkan hilal terlihat dengan mata telanjang.
      Sementara, batas bulan menurut kriteria tersebut mesti berada pada di atas 2 derajat. “Jadi berpotensi berbeda,” katanya. Perbedaan itu, kata Thomas, tidak mustahil akan terulang di masa mendatang selama tidak ada kesepakatan tentang kriteria itu.

      PERPECAHAN ADALAH PRILAKU ORANG-ORANG MUSYRIK


      Orang-orang yang bergolong-golongan dalam mengamalkan agama juga dapat terjerumus menjadi musyrik serta mendapat ancaman siksa yang berat:

      مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
      مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعاً كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

      "Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka." (QS. Ar Ruum (30): 31-32). 



      وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَاخْتَلَفُواْ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلَـئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
      "Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat, " (QS. Ali Imran (3): 105).

      Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu menuturkan dari  رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ   
      "Allah berkata kepada ahli neraka yang paling ringan siksanya: "Seandainya dunia dan seisinya menjadi milikmu ditambah dengan dunia  dan seisinya lagi, apakah engkau akan menebus siksaan ini dengan milikmu?" Ahli neraka menjawab: "Betul." Allah berfirman: "Kami telah menghendaki yang lebih ringan dari itu, yaitu ketika Aku meminta supaya kamu jangan melakukan syirik. Maka kamu sekalian tidak mau, kecuali malah melakukannya."" (HR. muslim).

      شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحاً وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ
      "Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu : Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)." (QS Asy Syuura (42): 13).

      Allah mengisyaratkan dengan jelas dalam Asy Syuura: 13 di atas bahwa orang-orang musyrik sangat berat  untuk berhimpun dalam satu kesatuan dalam mengamalkan syariat Islam ini. Namun anehnya sebagian ummat Islam  terjebak kepada pola pemikiran mereka, sehingga mereka keluar dari sendi-sendi agamanya, kaum Muslimin jadi terpuruk  karena komponen syari'at agamanya dirubah sehingga otoritas pelaksanaan syari'at Islam akan berada di luar apa yang Allah kehendaki. Padahal Islam adalah sumber kebenaran mutlak dari Allah Subhana Wa Ta'ala.

      الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ 
      "Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu." (QS Al Baqarah (2): 147).

      Menjadi jelas bagi kita bahwa kegagalan dan keterpurukan jihad Muslimin di muka bumi dari zaman ke zaman adalah karena menyalahi perintah Allah. Hendaklah hal ini menjadi peringatan supaya kita segera bertaubat  kepada Allah dengan kembali kepada tuntunan-Nya dan Rasul-Nya serta meninggalkan syirik  dengan segala bentuknya, yakni menjalankan syari'at Islam dengan cara berjama'ah dan berimamah ittiba' kepada pola Khilafah 'Ala Minhajin Nubuwwah. Al-Islam yang tidak dimodifikasi dengan teori apapun, tidak dicampur aduk dan dipisahkan dari kehidupan  sehari-hari. Bersih dari berbagai bid'ah, khurafat, tahayul atau syirik.

      (Sumber: buku "AKANKAH KITA TERUS MENERUS MENJADI BUIH?" oleh Majelis Dakwah Jama'ah Muslimin (Hizbullah))

      Salinan ayat dan terjemahan dari: www.indoquran.com

      PERPECAHAN SUMBER MASALAH


      Abu Dawud meriwayatkan sebuah hadits yang berasal dari Tsauban, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:
      “Berbagai bangsa akan mengerubuti kalian sebagaimana mereka mengerubuti hidangan makan.”
      Seseorang bertanya, “Apakah karena jumlah kami sedikit pada saat itu?”

      Rasulullah menjawab, “Kalian pada saat itu bahkan berjumlah banyak. Akan tetapi, kalian seperti buih di lautan. Allah telah mencabut rasa takut dari dada-dada musuh kalian terhadap kalian dan Allah menimpakan ke dalam hati kalian al-Wahn.”
      Seseorang bertanya, “Apa itu al-Wahn?”
      Rasulullah bersabda, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud no21363 dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu).
      Ada berbagai jawaban apabila ditanya sebab kelemahan masyarakat Islam sekarang. Ada yang menyebutkan karena kelemahan politik. Ada yang berpendapat karena kelemahan ekonomi, pendidikan dan pencapaian ilmu ataupun karena kelemahan dalam bidang sains dan teknologi. Ada yang memberikan alasan karena kelemahan iman dan bermacam-macam lagi.
      Hadits di atas jelas menunjukkan bahwa sebab kelemahan masyarakat Islam ialah karena mereka begitu cinta dunia sehingga kencur ketaatan kepada Allah Subhana Wa Ta’ala, Rasul-Nya dan Ulil Amri untuk memperjuangkan kebenaran. Inilah sifat-sifat negatif yang menjangkiti ummat Isalam. Di dalam Al-Qur’an Surat Al-Anfal (8): 73 Allah berfirman:

      وَالَّذينَ كَفَرُواْ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ إِلاَّ تَفْعَلُوهُ تَكُن فِتْنَةٌ فِي الأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

      “Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu , niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.”

      Allah telah menjelaskan bahwa selama kaum Muslimin tidak melaksanakan perintah-Nya (hidup berjama’ah di bawah satu pimpinan seluruh dunia) maka selama itu pula akan terjadi fitnah dan kerusakan yang besar menimpa kehidupan mereka. Dan pada kenyataannya, justeru kaum Muslimin saat ini telah berpecah-pecah menjadi beberapa golongan, menyerupai perilaku ahli kitab sebelumnya.
      Firma Allah dalam QS. Ali Imran (3): 105 :

      وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَاخْتَلَفُواْ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلَـئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

      “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,”
      Dan dalam QS Al-An’am (6): 65 :

      قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَن يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَاباً مِّن فَوْقِكُمْ أَوْ مِن تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعاً وَيُذِيقَ بَعْضَكُم بَأْسَ بَعْضٍ انظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ

      “Katakanlah: ” Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)”.”

      Ayat tersebut menjelaskan bahwa bergolong-golongan di kalangan Muslimin adalah merupakan siksa atau azab. Sebab golongan itu sendiri menyimpan potensi konflik yang bukan saja bisa menimbulkan pertentangan tapi juga peperangan dan penindasan sebagian dari sebagian yang lain. Bergolong-golongan bisa berarti melanggar perintah Allah bersatu (QS. Ali Imran (3): 103 ). Dampak dari pelanggaran tersebut mengakibatkan:
      1. Mereka menjadi musyrik kepada Allah Subhana Wa Ta’ala karena telah memecah  belah agamanya (QS. Ar Rum (30): 31-32 ).
      2. Ummat menjadi lemah, hina dan hilang kekuatannya.
      3. Ambisi kepemimpinan dan perebutan kekuasaan di antara mereka.
      4. Terjadi penyimpangan pola pikir dan pola juang Muslimin dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
      5. Tersebarnya kemaksiatan dan runtuhnya moral.
      6. Dunia menjadi rebutan dan tujuan utama.
      Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyatakan  bahwa Muslimin terpecah menjadi 73 golongan. Angka ini menunjukkan betapa seriusnya perpecahan di dalam tubuh kaum  Muslimin. Selain masalah kebangsaan-nasionalisme, mazhab dan lain-lain, perbedaan kecil pun pada akhirnya bisa memicu perpecahan, sehingga keberadaan ummat Islam menjadi sangat lemah.
      Pada tataran global, nasionalisme telah menjadi ta’ashub (ashobiyah kebangsaan kerdil) yang memecah belah kaum Muslimin menjadi negeri-negeri kecil yang saling berebut pengaruh dan kepentingan. Dalam hal aliran, Muslimin terpecah dalam beberapa mazhab dan aliran, seperti: Qadariah, Jabariah, Mu’tazilah, Sunni, Syi’ah. Pada bidang fiqih mereka pun terjebak pada fanatisme mazhab dan taqlid buta.
      Puncak dari perpecahan umat Islam tersebut terjadi ada saat runtuhnya kepemimpinan Islam Turki Utsmani pada tahun 1924 yang merupakan symbol kekuatan dan persatuan dunia Islam. Kemudian berdirinya negara Zionis Israel di bumi Islam, Palestina.
      Banyak kemunduran umat Islam yang dialami pasca kepemimpinan tersebut. Pada generasi awal, kepemimpinan selalu dipandang sebagai amanah, sehingga kepemimpinan tunduk dan patuh sepenuhnya kepada syari’at Islam, namun pasca kekhilafahan Khulafaur Rasyidin al-Mahdiyin syari’at sebagai sumber inspirasi, motivasi dan tali pemersatu yang kuat mulai ditinggalkan dan diganti dengan sikap ashabiyah, yaitu bangga dengan kelompok/golongan. Daya kontrol menjadi lemah, kebersamaan menjadi goyah karena menginginkan keuntungan pribadi-pribadi atau  golongannya. Akhirnya, bermunculan fitnah dalam tubuh umat Islam. Prinsip-prinsip ukhuwah sebagai tulang punggung persatuan  dan kekuatan ummat, semakin jauh ditinggalkan. Padahal masing-masing di antara mereka mengaku berjuang dan berbuat untuk kepentingan Islam.

      MASALAH BESAR YANG TIMBUL AKIBAT PERPECAHAN

       
      1.   Krisis Kepemimpinan.
      Akibat logis dari perpecahan adalah krisis kepemimpinan. Bagaimana mungkin Muslimin yang jumlahnya sangat banyak ini bisa hidup "terkendali" di bawah seorang pemimpin jika terkotak-kotak dalam perpecahan
      . Sebab tiap-tiap golongan menonjolkan pemimpinnya dan ingin dominan dengan caranya masing-masing yang belum tentu sesuai dengan syari'at.

      2.   Krisis Aqidah.
      Tanpa kesatuan bulat Umat Islam di bawah satu kepemimpinan, maka invasi pemikiran yang dilontarkan oleh kaum kufar dalam bentuk ideologi dan falsafah akan sangat mudah masuk. Ghazwatul fikri dalam berbagai bentuknya tidak dapat dibendung. Terjadilah pergeseran nilai dan pendangkalan aqidah, sedikit demi sedikit keluar dari aqidah dan kaidah Islam kemudian bercampur-baur dengan isme-isme sekuler yang menyesatkan seperti: orientalisme, westernisasi dan sekularisme.

      3.   Krisis Akhlak.
      Invasi pemikiran liberal dalam kemasan eksitensialisme dan hedonisme yang menyeru kebebasan tanpa norma dan agama guna mendapatkan kepuasan dan kebahagiaan sesaat dianut negeri-negeri Islam. Pengaruh ini mengikis aqidah dan merobah pola pikir menjadi materialistis dan pragmatis.
      Motivasi seluruh prilakunya hanya berdasarkan naluri yang bertumpu pada nafsu. Agama diabaikan, hilang sifat-sifat mulia, muncul iri, dengki, tamak dan keserakahan yang tidak pernah terpuaskan. Lahir budaya urakan tanpa rasa malu, mengumbar aurat, pornografi, porno aksi, pesta miras dan narkoba.
      Media elektronik terutama televisi, internet, VCD, majalah menjadi sarana paling efektif tanpa bisa dibendung masuk ke setiap ruangan dan kesempatan. Mewarnai pola pikir dan prilaku umat Islam, sehingga semakin jauh dari agamanya.
      Sindikat internasional penjual makanan, minuman dan obat-obatan terlarang masuk ke kawasan Muslimin dengan arus yang sangat deras.
      Operasi penghancuran akhlak dan pemurtadan dilakukan  secara serempak di semua bidang kehidupan Muslimin dengan didukung oleh upaya manajerial dan konsep canggih yang tidak terbatas.
       

      4.   Krisis Ukhuwah.
      Seluruh umat Islam yang semula merupakan Ummatan Wahidah, yakni satu masyarakat dunia di bawah satu kepemimpinan kini terkoyak-koyak dalam kemasan nasionalisme, ormas, orpol, sekte dll.
      Krisis ukhuwah menjadi kenyataan, permusuhan, pertikaian phisik disebabkan konflik kepentingan tak dapat dielakkan. Ukhuwah Islamiyah hanya tinggal slogan kosong.

       قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُواْ فِي الأَرْضِ فَانْظُرُواْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذَّبِينَ
      هَـذَا بَيَانٌ لِّلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِّلْمُتَّقِينَ 
       
      وَلاَ تَهِنُوا وَلاَ تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
      إِن يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهُ وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ وَيَتَّخِذَ مِنكُمْ شُهَدَاء وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
      وَلِيُمَحِّصَ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ وَيَمْحَقَ الْكَافِرِينَ
      "Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah ; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)."
      "(Al Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa."
      "Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. "
      "Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada' . Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim,"
      "Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir. " (QS. Ali Imran (3): 137 - 141).

      (Sumber: buku "AKANKAH KITA TERUS MENERUS MENJADI BUIH?" oleh Majelis Dakwah Jama'ah Muslimin (Hizbullah))

      Mari Mengambil Hikmah Dari Hadis Perpecahan Umat



      Dari Mu'awiyah bin Abu Sufyan radiyallahu anhu, Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Ingatlah sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari ahli kitab telah berpecah-belah menjadi tujuh dua golongan dan sesungguhnya ummat ini akan berpecah-belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, yang tujuh puluh dua golongan di dalam neraka sedang yang satu di dalam surga, yaitu Al-Jama'ah dan sesungguhnya akan ada dari ummatku beberapa kum yang dijangkiti oleh hawa nafsu (Al-Ahwa) sebagaimana menjalarnya penyakit anjing gila dengan orang yang dijangkitinya, tidak tinggal satu urat dan sendi ruas tulangnya, melainkan dijangkitinya." (HR. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud dalam Kitabu Sunnah:IV/198 No.4597, Ahmad, Musnad Ahmad:II/145-IV/102. Lafadz Abu Dawud).



      Beberapa hikmah yang dapat kita ambil dari hadis tentang perpecahan umat yang dijelaskan oleh Rasulullah sholallahu 'alaihi wasallam di atas:

      1. Hadis tersebut sangat penting sehingga tidak boleh dilupakan. Hal ini terlihat dengan diawalinya hadis tersebut oleh Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam dengan kata : "Ingatlah !"

      2. Apapun alasannya, maka perpecahan tidak menghasilkan selain kebinasaan dan akan mendorong para pelakunya kedalam neraka jahanam.

      3. Adalah benar, bahwa orang-orang yang selamat itu adalah orang-orang yang mutaqin, maka orang-orang yang mutaqin itu akan mentaati perintah dan menjauhi larangan. Oleh karena itu, orang-orang yang mutaqin tentu akan menjauhi perpecahan dan berupaya untuk bersatu kembali dengan sesama muslimin.

      4. Dengan penjelasan bahwa yang selamat itu hanya satu yaitu - Al-Jama'ah - maka semestinya kita mencari tahu mengapa ia di ma'rifatkan (tertentu) bentuk katanya? Al-Jama'ah berasal dari kata"jama'ah" yang dima'rifatkan dan "jama'ah" artinya adalah kumpulan. Menurut syare'at, jama'ah itu harus ada pemimpin dan pemimpin untuk seluruh muslimin adalah Imam atau Khalifah yang ia dapat dinyatakan haq adalah dengan adanya pembae'atan oleh ummat terhadap Imam atau Khalifah tersebut. Oleh karena itu, kumpulan yang pemimpinnya tidak melalui syare'at bae'at, tidak dapat dikatakan sebagai jama'ah syare'at dan tidak dapat dikatakan sebagai Al-Jama'ah.

      5. Dengan penjelasan Rasulullah bahwa yang selamat itu hanya satu saja yaitu Al-Jama'ah, maka semestinya kita berupaya untuk kembali kepada Al-Jama'ah yang hanya satu saja itu, yaitu dengan bersatu dalam wujud satu jama'ah dan satu Imam atau Khalifah, tanpa menimbang perlunya mempertahankan pemahaman dan madzhab karena jelas di masa Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam pemahaman para sahabatpun beragam namun tidak ada madzhab, begitupun pada masa Khulafaur Rasyidin Al-Mahdiyin.

      6. Dengan penjelasan bahwa yang selamat itu adalah satu, maka jika ada banyak jama'ah syare'at atau jama'ah yang pemimpinnya diangkat dengan syare'at bae'at, harus dipilih satu saja diantaranya. Berpegang kepada ketentuan Rasulullah shollallahu 'alaihi wassalam, maka yang haq diantara mereka adalah Imam atau Khalifah yang pertama kali dibae'at oleh ummatlah yang harus kita pegang sebagai Imam/Khalifah yang pertama dan jama'ah yang pertama dan itulah Al-Jama'ah yang sebenar-benarnya.

      Dengan penjelasan di atas, tidak perlu kita menuduh siapapun dan golongan manapun dengan tuduhan sesat apalagi kafir dan tidak membahas pemahaman siapa dan madzhab siapa yang harus diikuti. Wallahu Al-Musta'an.

      *) Catatan: Pembahasan diatas ini berpegang kepada perintah Rasulullah shollallahu 'alaihi wassalam : "Wajib atas kalian mengikuti sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin Al-Mahdiyin", jadi tidak melibatkan Jema'at Ahmadiyah dan Syiah, karena mereka mempunyai keyakinan sendiri dan menyalahi wasiat dari Rasulullah sholallahu 'alaihi wassalam tersebut.

      Subscribe To RSS

      Sign up to receive latest news

       
      Thanks to FADHLURRAHMAN From Otam Farrell