-->

    • >
    • 02 July 2014

      PERPECAHAN SUMBER MASALAH


      Abu Dawud meriwayatkan sebuah hadits yang berasal dari Tsauban, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:
      “Berbagai bangsa akan mengerubuti kalian sebagaimana mereka mengerubuti hidangan makan.”
      Seseorang bertanya, “Apakah karena jumlah kami sedikit pada saat itu?”

      Rasulullah menjawab, “Kalian pada saat itu bahkan berjumlah banyak. Akan tetapi, kalian seperti buih di lautan. Allah telah mencabut rasa takut dari dada-dada musuh kalian terhadap kalian dan Allah menimpakan ke dalam hati kalian al-Wahn.”
      Seseorang bertanya, “Apa itu al-Wahn?”
      Rasulullah bersabda, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud no21363 dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu).
      Ada berbagai jawaban apabila ditanya sebab kelemahan masyarakat Islam sekarang. Ada yang menyebutkan karena kelemahan politik. Ada yang berpendapat karena kelemahan ekonomi, pendidikan dan pencapaian ilmu ataupun karena kelemahan dalam bidang sains dan teknologi. Ada yang memberikan alasan karena kelemahan iman dan bermacam-macam lagi.
      Hadits di atas jelas menunjukkan bahwa sebab kelemahan masyarakat Islam ialah karena mereka begitu cinta dunia sehingga kencur ketaatan kepada Allah Subhana Wa Ta’ala, Rasul-Nya dan Ulil Amri untuk memperjuangkan kebenaran. Inilah sifat-sifat negatif yang menjangkiti ummat Isalam. Di dalam Al-Qur’an Surat Al-Anfal (8): 73 Allah berfirman:

      وَالَّذينَ كَفَرُواْ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ إِلاَّ تَفْعَلُوهُ تَكُن فِتْنَةٌ فِي الأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

      “Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu , niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.”

      Allah telah menjelaskan bahwa selama kaum Muslimin tidak melaksanakan perintah-Nya (hidup berjama’ah di bawah satu pimpinan seluruh dunia) maka selama itu pula akan terjadi fitnah dan kerusakan yang besar menimpa kehidupan mereka. Dan pada kenyataannya, justeru kaum Muslimin saat ini telah berpecah-pecah menjadi beberapa golongan, menyerupai perilaku ahli kitab sebelumnya.
      Firma Allah dalam QS. Ali Imran (3): 105 :

      وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَاخْتَلَفُواْ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلَـئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

      “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,”
      Dan dalam QS Al-An’am (6): 65 :

      قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَن يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَاباً مِّن فَوْقِكُمْ أَوْ مِن تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعاً وَيُذِيقَ بَعْضَكُم بَأْسَ بَعْضٍ انظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ

      “Katakanlah: ” Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)”.”

      Ayat tersebut menjelaskan bahwa bergolong-golongan di kalangan Muslimin adalah merupakan siksa atau azab. Sebab golongan itu sendiri menyimpan potensi konflik yang bukan saja bisa menimbulkan pertentangan tapi juga peperangan dan penindasan sebagian dari sebagian yang lain. Bergolong-golongan bisa berarti melanggar perintah Allah bersatu (QS. Ali Imran (3): 103 ). Dampak dari pelanggaran tersebut mengakibatkan:
      1. Mereka menjadi musyrik kepada Allah Subhana Wa Ta’ala karena telah memecah  belah agamanya (QS. Ar Rum (30): 31-32 ).
      2. Ummat menjadi lemah, hina dan hilang kekuatannya.
      3. Ambisi kepemimpinan dan perebutan kekuasaan di antara mereka.
      4. Terjadi penyimpangan pola pikir dan pola juang Muslimin dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
      5. Tersebarnya kemaksiatan dan runtuhnya moral.
      6. Dunia menjadi rebutan dan tujuan utama.
      Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyatakan  bahwa Muslimin terpecah menjadi 73 golongan. Angka ini menunjukkan betapa seriusnya perpecahan di dalam tubuh kaum  Muslimin. Selain masalah kebangsaan-nasionalisme, mazhab dan lain-lain, perbedaan kecil pun pada akhirnya bisa memicu perpecahan, sehingga keberadaan ummat Islam menjadi sangat lemah.
      Pada tataran global, nasionalisme telah menjadi ta’ashub (ashobiyah kebangsaan kerdil) yang memecah belah kaum Muslimin menjadi negeri-negeri kecil yang saling berebut pengaruh dan kepentingan. Dalam hal aliran, Muslimin terpecah dalam beberapa mazhab dan aliran, seperti: Qadariah, Jabariah, Mu’tazilah, Sunni, Syi’ah. Pada bidang fiqih mereka pun terjebak pada fanatisme mazhab dan taqlid buta.
      Puncak dari perpecahan umat Islam tersebut terjadi ada saat runtuhnya kepemimpinan Islam Turki Utsmani pada tahun 1924 yang merupakan symbol kekuatan dan persatuan dunia Islam. Kemudian berdirinya negara Zionis Israel di bumi Islam, Palestina.
      Banyak kemunduran umat Islam yang dialami pasca kepemimpinan tersebut. Pada generasi awal, kepemimpinan selalu dipandang sebagai amanah, sehingga kepemimpinan tunduk dan patuh sepenuhnya kepada syari’at Islam, namun pasca kekhilafahan Khulafaur Rasyidin al-Mahdiyin syari’at sebagai sumber inspirasi, motivasi dan tali pemersatu yang kuat mulai ditinggalkan dan diganti dengan sikap ashabiyah, yaitu bangga dengan kelompok/golongan. Daya kontrol menjadi lemah, kebersamaan menjadi goyah karena menginginkan keuntungan pribadi-pribadi atau  golongannya. Akhirnya, bermunculan fitnah dalam tubuh umat Islam. Prinsip-prinsip ukhuwah sebagai tulang punggung persatuan  dan kekuatan ummat, semakin jauh ditinggalkan. Padahal masing-masing di antara mereka mengaku berjuang dan berbuat untuk kepentingan Islam.

      MASALAH BESAR YANG TIMBUL AKIBAT PERPECAHAN

       
      1.   Krisis Kepemimpinan.
      Akibat logis dari perpecahan adalah krisis kepemimpinan. Bagaimana mungkin Muslimin yang jumlahnya sangat banyak ini bisa hidup "terkendali" di bawah seorang pemimpin jika terkotak-kotak dalam perpecahan
      . Sebab tiap-tiap golongan menonjolkan pemimpinnya dan ingin dominan dengan caranya masing-masing yang belum tentu sesuai dengan syari'at.

      2.   Krisis Aqidah.
      Tanpa kesatuan bulat Umat Islam di bawah satu kepemimpinan, maka invasi pemikiran yang dilontarkan oleh kaum kufar dalam bentuk ideologi dan falsafah akan sangat mudah masuk. Ghazwatul fikri dalam berbagai bentuknya tidak dapat dibendung. Terjadilah pergeseran nilai dan pendangkalan aqidah, sedikit demi sedikit keluar dari aqidah dan kaidah Islam kemudian bercampur-baur dengan isme-isme sekuler yang menyesatkan seperti: orientalisme, westernisasi dan sekularisme.

      3.   Krisis Akhlak.
      Invasi pemikiran liberal dalam kemasan eksitensialisme dan hedonisme yang menyeru kebebasan tanpa norma dan agama guna mendapatkan kepuasan dan kebahagiaan sesaat dianut negeri-negeri Islam. Pengaruh ini mengikis aqidah dan merobah pola pikir menjadi materialistis dan pragmatis.
      Motivasi seluruh prilakunya hanya berdasarkan naluri yang bertumpu pada nafsu. Agama diabaikan, hilang sifat-sifat mulia, muncul iri, dengki, tamak dan keserakahan yang tidak pernah terpuaskan. Lahir budaya urakan tanpa rasa malu, mengumbar aurat, pornografi, porno aksi, pesta miras dan narkoba.
      Media elektronik terutama televisi, internet, VCD, majalah menjadi sarana paling efektif tanpa bisa dibendung masuk ke setiap ruangan dan kesempatan. Mewarnai pola pikir dan prilaku umat Islam, sehingga semakin jauh dari agamanya.
      Sindikat internasional penjual makanan, minuman dan obat-obatan terlarang masuk ke kawasan Muslimin dengan arus yang sangat deras.
      Operasi penghancuran akhlak dan pemurtadan dilakukan  secara serempak di semua bidang kehidupan Muslimin dengan didukung oleh upaya manajerial dan konsep canggih yang tidak terbatas.
       

      4.   Krisis Ukhuwah.
      Seluruh umat Islam yang semula merupakan Ummatan Wahidah, yakni satu masyarakat dunia di bawah satu kepemimpinan kini terkoyak-koyak dalam kemasan nasionalisme, ormas, orpol, sekte dll.
      Krisis ukhuwah menjadi kenyataan, permusuhan, pertikaian phisik disebabkan konflik kepentingan tak dapat dielakkan. Ukhuwah Islamiyah hanya tinggal slogan kosong.

       قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُواْ فِي الأَرْضِ فَانْظُرُواْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذَّبِينَ
      هَـذَا بَيَانٌ لِّلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِّلْمُتَّقِينَ 
       
      وَلاَ تَهِنُوا وَلاَ تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
      إِن يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهُ وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ وَيَتَّخِذَ مِنكُمْ شُهَدَاء وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
      وَلِيُمَحِّصَ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ وَيَمْحَقَ الْكَافِرِينَ
      "Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah ; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)."
      "(Al Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa."
      "Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. "
      "Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada' . Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim,"
      "Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir. " (QS. Ali Imran (3): 137 - 141).

      (Sumber: buku "AKANKAH KITA TERUS MENERUS MENJADI BUIH?" oleh Majelis Dakwah Jama'ah Muslimin (Hizbullah))

      Mari Mengambil Hikmah Dari Hadis Perpecahan Umat



      Dari Mu'awiyah bin Abu Sufyan radiyallahu anhu, Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Ingatlah sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari ahli kitab telah berpecah-belah menjadi tujuh dua golongan dan sesungguhnya ummat ini akan berpecah-belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, yang tujuh puluh dua golongan di dalam neraka sedang yang satu di dalam surga, yaitu Al-Jama'ah dan sesungguhnya akan ada dari ummatku beberapa kum yang dijangkiti oleh hawa nafsu (Al-Ahwa) sebagaimana menjalarnya penyakit anjing gila dengan orang yang dijangkitinya, tidak tinggal satu urat dan sendi ruas tulangnya, melainkan dijangkitinya." (HR. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud dalam Kitabu Sunnah:IV/198 No.4597, Ahmad, Musnad Ahmad:II/145-IV/102. Lafadz Abu Dawud).



      Beberapa hikmah yang dapat kita ambil dari hadis tentang perpecahan umat yang dijelaskan oleh Rasulullah sholallahu 'alaihi wasallam di atas:

      1. Hadis tersebut sangat penting sehingga tidak boleh dilupakan. Hal ini terlihat dengan diawalinya hadis tersebut oleh Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam dengan kata : "Ingatlah !"

      2. Apapun alasannya, maka perpecahan tidak menghasilkan selain kebinasaan dan akan mendorong para pelakunya kedalam neraka jahanam.

      3. Adalah benar, bahwa orang-orang yang selamat itu adalah orang-orang yang mutaqin, maka orang-orang yang mutaqin itu akan mentaati perintah dan menjauhi larangan. Oleh karena itu, orang-orang yang mutaqin tentu akan menjauhi perpecahan dan berupaya untuk bersatu kembali dengan sesama muslimin.

      4. Dengan penjelasan bahwa yang selamat itu hanya satu yaitu - Al-Jama'ah - maka semestinya kita mencari tahu mengapa ia di ma'rifatkan (tertentu) bentuk katanya? Al-Jama'ah berasal dari kata"jama'ah" yang dima'rifatkan dan "jama'ah" artinya adalah kumpulan. Menurut syare'at, jama'ah itu harus ada pemimpin dan pemimpin untuk seluruh muslimin adalah Imam atau Khalifah yang ia dapat dinyatakan haq adalah dengan adanya pembae'atan oleh ummat terhadap Imam atau Khalifah tersebut. Oleh karena itu, kumpulan yang pemimpinnya tidak melalui syare'at bae'at, tidak dapat dikatakan sebagai jama'ah syare'at dan tidak dapat dikatakan sebagai Al-Jama'ah.

      5. Dengan penjelasan Rasulullah bahwa yang selamat itu hanya satu saja yaitu Al-Jama'ah, maka semestinya kita berupaya untuk kembali kepada Al-Jama'ah yang hanya satu saja itu, yaitu dengan bersatu dalam wujud satu jama'ah dan satu Imam atau Khalifah, tanpa menimbang perlunya mempertahankan pemahaman dan madzhab karena jelas di masa Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam pemahaman para sahabatpun beragam namun tidak ada madzhab, begitupun pada masa Khulafaur Rasyidin Al-Mahdiyin.

      6. Dengan penjelasan bahwa yang selamat itu adalah satu, maka jika ada banyak jama'ah syare'at atau jama'ah yang pemimpinnya diangkat dengan syare'at bae'at, harus dipilih satu saja diantaranya. Berpegang kepada ketentuan Rasulullah shollallahu 'alaihi wassalam, maka yang haq diantara mereka adalah Imam atau Khalifah yang pertama kali dibae'at oleh ummatlah yang harus kita pegang sebagai Imam/Khalifah yang pertama dan jama'ah yang pertama dan itulah Al-Jama'ah yang sebenar-benarnya.

      Dengan penjelasan di atas, tidak perlu kita menuduh siapapun dan golongan manapun dengan tuduhan sesat apalagi kafir dan tidak membahas pemahaman siapa dan madzhab siapa yang harus diikuti. Wallahu Al-Musta'an.

      *) Catatan: Pembahasan diatas ini berpegang kepada perintah Rasulullah shollallahu 'alaihi wassalam : "Wajib atas kalian mengikuti sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin Al-Mahdiyin", jadi tidak melibatkan Jema'at Ahmadiyah dan Syiah, karena mereka mempunyai keyakinan sendiri dan menyalahi wasiat dari Rasulullah sholallahu 'alaihi wassalam tersebut.

      Rahasia Nama Pepsi Geramkan Muslim


      Para pemuka Muslim menyatakan mereka takkan pernah menarik pernyataannya bahwa Pepsi Cola esensinya adalah nama kode bagi komplotan Zionis.

      Institut Riset Media Timur Tengah (MEMRI) telah merilis pernyataan berbahasa Inggris yang diberikan oleh seorang pemuka Islam di Mesir bulan Februari yang lalu, dimana dia jabarkan bahwa PEPSI sebenarnya adalah kepanjangan dari "Pay Every Penny to Save Israel" atau "Sumbangkan setiap penny untuk menyelamatkan Israel."

      Selain itu, seorang anggota parlemen organisasi Hamas di Gaza juga mengeluarkan pernyataan sama tentang hal tersebut tahun lalu. Berbicara dalam stasiun TV Al-Aqsha, anggota perlemen Salem Salamah menyatakan, "Ada berbagai perusahaan yang didirikan oleh para kolonialis dan pendudukan – berbagai perusahaan besar dengan banyak cabang diseluruh penjuru dunia, seperti Pepsi, Pepsi Cola. Ini adalah perusahaan terkemuka. Pepsi adalah kepanjangan dari Pay Every Penny to Save Israel."

      Baru-baru ini juga, seorang pemuka Mesir Hazem Abu Ismail mengeluarkan pernyataan yang sama. Berbicara didepan Al Nas TV – sebuah kanal religius Muslim- Abu Ismail menyerukan sebuah boikot dari kaum Muslim terhadap Pepsi karena kepanjangannya tersebut.

      Secara spesifik, Hazem Abu Ismail menyatakan sebagai berikut, berdasarkan transkrip sama yang diberikan oleh MEMRI, Institut Riset Media Timur Tengah yang berbasis di Washington:

      Huruf P pertama berarti "Pay" (Berikan), E untuk "Every" (Setiap). Huruf ketiga untuk "Penny". Penny adalah koin kecil yang anda terima dan anda tak tahu apa yang akan anda lakukan dengannya. Berikan itu untuk "Menyelamatkan" I – "Israel". Dengan kata lain, berikan setiap koin kecil yang anda terima untuk menyelamatkan Israel. Mereka tak ingin uang anda – mereka hanya ingin koin pecahan kecil, penny anda. Bila saya tidak salah, dalam ekonomi Amerika, penny adalah seperseribu dolar. Nilainya kecil sekali.

      Mereka mengatakan, "Sumbangkan pecahan kecil yang tidak anda butuhkan, tetapi berikanlah dengan alasan yang benar. Bila anda mengumpulkan pecahan kecil ini, anda bisa membeli minuman ini." Mereka mengambil masing-masing kata awalan dan membentuk kata "Pepsi". Bila anda membayar (untuk membeli Pepsi), anda akan menyelamatkan Israel. Saya tidak hanya bicara tentang Pepsi, tetapi tentang Coca Cola dan kesemuanya. Saya tak akan menyebutkan suatu produk. Anda bisa lihat sendiri. Anda Muslim. Anda bisa sampaikan kepada saya. Saya tidak tahu. Anak kecil saya bahkan lebih tahu tentang boikot ini daripada saya. Saat kami pergi belanja, dia katakan pada saya: "Beli ini, jangan yang itu." Dia mengetahuinya. Dia sudah menjadi ahli dalam hal ini.

      Selama bertahun-tahun, The Coca Cola Company dan produk-produknya banyak menuai kritik oleh berbagai sumber atas bermacam-macam alasan termasuk efek negatif produk-produk tersebut terhadap kesehatan, lingkungan, penggunaan pestisida dalam jumlah yang besar dalam produk-produknya, praktek eksploitasi buruh dan masih banyak alasan lagi. Tidak sedikit dari alasan-alasan tersebut yang membawa perusahaan tersebut menghadapi tuntutan hukum dan menciptakan kontroversi yang terdapat pada logo produk Coca Cola.

      Maulana Kalbe Jawwad, seorang kepala keagamaan Shias, mengatakan: "Hal ini merupakan penghinaan terhadap Tuhan. Kami akan meminta Muslim di negara ini dan seluruh dunia untuk memboikot produk tersebut sampai perusahaan tersebut menarik kata-kata yang menyinggung tersebut.

      Maulana mengatakan bahwa ia akan meminta semua praktisi Muslim untuk menyebarkan pesan tentang logo "yang sangat menyinggung tersebut" (suaramedia/al-khilafah.co.cc)

      Pesan Anti-Islam Di Balik Logo Coca Cola?

      KAIRO – The Coca Cola Company dan produk-produknya banyak menuai kritik oleh berbagai sumber atas bermacam-macam alasan termasuk efek negatif produk-produk tersebut terhadap kesehatan, lingkungan, penggunaan pestisida dalam jumlah yang besar dalam produk-produknya, praktek eksploitasi buruh dan masih banyak alasan lagi. Tidak sedikit dari alasan-alasan tersebut yang membawa perusahaan tersebut menghadapi tuntutan hukum dan menciptakan kontroversi.


      Satu kontroversi lagi terdapat pada logo produk Coca Cola. Bacalah logo tersebut dalam cermin atau terbalik, dalam tulisan Arab, apa yang anda dapat? Sumber dari sebuah kampanye di Mesir menuduh minuman ringan terbesar tersebut atas menyinggung Islam karena logo yang terkenal tersebut terlihat mengatakan: “No to Mohamed. No to Mecca” (Tidak untuk Muhammad. Tidak untuk Mekkah). Pejabat lokal Coca-Cola mengatakan bahwa kampanye tersebut bermula dari internet pada Januari. (watch evil cocacola )

      Pada bulan lalu, banyak selebaran didistribusikan di masjid-masjid dan sekolah-sekolah, mengajak para pelanggan untuk memboikot minuman ringan tersebut atas dasar bahwa minuman tersebut menghancurkan agama mereka.

      Maulana Kalbe Jawwad, seorang kepala keagamaan Shias, mengatakan: “Hal ini merupakan penghinaan terhadap Tuhan. Kami akan meminta Muslim di negara ini dan seluruh dunia untuk memboikot produk tersebut sampai perusahaan tersebut menarik kata-kata yang menyinggung tersebut.

      Maulana mengatakan bahwa ia akan meminta semua praktisi Muslim untuk menyebarkan pesan tentangn logo “yang sangat menyinggung tersebut”.

      Menguatkan pendirian Maulana, S.R. Azmi Nadvi, sarjana Bahasa Arab dan kepala sekolah dari Nadwa College yang terkenal di Lucknow, mengatakan bahwa kata-kata tersebut “berlawanan dengan agama kita”. “Saya telah melihatnya (logo tersebut) dan saya yakin bahwa logo tersebut emncemarkan yang dianggap suci,” ia menambahkan.

      Ia mengatakan masalah tersebut sekarang akan dibawa kepada Dewan Hukum Personal Muslim dan Liga Dunia Arab Islam di Mekkah.

      Selama lebih dari beberapa hari, logo Coca-Cola tersebut telah menjadi buah bibir seluruh kota. Botol-botol diperiksa dengan seksama seperti belum pernah melihat botol tersebut sebelumnya. Tetapi sekarang Coca-Cola, yang mengatakan bahwa “minuman tersebut dinikmati oleh lebih dari satu milyar Muslim”, melawan balik. Digelisahkan oleh kemungkinan perlawanan balik dari yang dirasa menghina, minuman tersebut berunding dengan satu dari tokoh-tokoh keagamaan yang paling senior Mesir, Sheikh Nasser Farid Wassel, yang menempatkan logo berumur 114 tahun tersebut sebelum sebuah panel para ahli keagamaan.

      “Merek dagang tersebut tidak dirubah sejak logo tersebut didesain sampai sekarang,” datanglah balasannya. “Logo tersebut ditulis dalam bahasa asing dan tidak dalam bahasa Arab, dan hal ini membuktikan bahwa merek dagang tersebut tidak melukai Islam atau umat Muslim secara langsung ataupun tidak langsung.”

      Sheikh Nasser mendesak mereka yang berada di balik rumor tersebut untuk “takut Tuhan” karena “tulisan tersebut mendesak Muslim untuk menyebarkan rumor-rumor tidak adil… tanpa mempunyai sebuah bukti legal bahwa mereka benar.” Ia menambahkan bahwa semua tanggung jawab untuk kampanye tersebut membahayakan pekerjaan dari ribuan warga Mesir yan bekerja pada perusahaan Coca-Cola lokal.

      Coca-Cola telah melengkapi staf penjualannya dengan salinan dari putusan sheikh untuk menunjukkan perhatiannya kepada para pelanggan.

      Tetapi manajer urusan luar perusahaan tersebut, Mahmoud Hamdy, mengatakan bahwa sejauh ini penjualan tidak terpengaruh. Ahmed Abdul Aziz, seorang pekerja konstruksi yang minum Coca-Cola dua atau tiga botol per hari, memegang botol minuman tersebut di depan cermin sebuah sepeda motor yang diparkir. “benar bahwa anda dapat melihatnya,” ia mengatakan. “Tetapi saya tidak akan menyerahkannya sekarang. Saya telah meminumnya bertahun-tahun tanpa masalah.” Dua tahun yang lalu, sebuah kampanye yang sama ditujukan terhadap Fanta, menuduhnya mengatakan “No to Allah” (Tidak pada Allah). Protes tersebut berakhir setelah beberapa minggu.

      Rumor Coca-Cola bertepatan dengan sebuah kampanye yang jauh lebih serius terhadap sebuah novel oleh penulis Syria, Haidar Haidar, menyebut Feast dor Seaweed, dimana satu karakter menggambarkan Tuhan sebagai seorang “artis yang gagal”.

      Walaupun buku tersebut pertama kali diterbitkan pada 1983, sebuah harian Islam memulai serangan proaktif bulan lalu, menuduh novel tersebut atas penghinaan terhadap Tuhan dan menggambarkan buku tersebut sebagai sebuah penghinaan kepada Muslim lebih buruk dari pada kekalahan Arab oleh Israel pada 1967, sebuah hal yang memalukan bahwa hanya dapat dihapus “oleh darah”.

      Harian tersebut juga memberikan nama-nama dan alamat-alamat dari pejabat-pejabat Kementrian Budaya Mesir, yang mencetak ulang buku tersebut, dari apa yang banyak dilihat sebagai penghasutan untuk pembunuhan. Pada 8 Mei, siswa-siswa religius melakukan kerusuhan terhadap atas buku tersebut dalam protes terburuk selama bertahun-tahun.

      Coca Cola juga merupakan salah satu produk milik Yahudi yang beberapa waktu lalu juga mendapat pemboikotan global seputar serangan Israel di Jalur Gaza yang menewaskan ribuan orang. (ppt/fa/pl/wp/smedia)

      AIR MINERAL ADES YANG SANGAT ZIONIS




      Ades merek air minum kemasan milik The Coca Cola Company meluncurkan kemasan baru yang diklaim lebih ramah lingkungan (18/4). AdeS adalah merek dagang air minum tersedia di Indonesia. The Coca Cola Company mengakuisisi air merek Ades kemasan sebesar $ 20 juta pada tahun 2000 sebagai bagian sebesar $ 45 juta investasi di negara itu sejak tahun 1999 di bawah International Tbk PT Akasha Wira.

      Kemasan Ades ini berubah warna dari warna dasar biru muda dan tepi biru tua menjadi warna dasar putih dengan tepi hijau. Logo Ades juga berubah, yakni menjadi gambar daun dan berwarna hijau yang berbentuk seperti kincir. Jika kita memutar logo Ades terbaru maka akan kita dapatkan sebuah logo bintang david (detail bisa dilihat di gambar).




      The Coca Cola Company merupakan perusahaan air minum yang berbasis di Amerika. The Coca Cola Company mengklaim 1,7 miliar produknya terdistribusi di 200 negara dalam sehari.

      Saat ini, The Coca-Cola Company memiliki nilai portfolio US$ 15 miliar di seluruh dunia dan mempekerjakan 700.000 karyawan di seluruh dunia. Coca-Cola masuk ke Indonesia sejak tahun 1927, dan diproduksi secara lokal pertama kalinya tahun 1932.

      Saat ini, Coca Cola Amatil Indonesia, cabang dari The Coca Cola Company memiliki sembilan pabrik di Indonesia. Sedangkan air mineral Ades diproduksi di pabrik Coca-Cola Amatil Indonesia di Cibitung.

      Sebelumnya juga pernah diberitakan bahwa terdapat pesan anti Islam dalam logo Coca Cola, yang jika logo Coca Cola dilihat melalui cermin maka akan terbaca sebagai tulisan arab yang berbunyi "La Muhammad la Makkah" yang dalam bahasa Indonesia berarti "Tidak untuk Muhammad. Tidak untuk Mekkah".

      Tidak hanya itu, Institut Riset Media Timur Tengah (MEMRI) juga pernah merilis pernyataan berbahasa Inggris yang diberikan oleh seorang pemuka Islam di Mesir, dimana dijabarkan bahwa PEPSI sebenarnya adalah kepanjangan dari "Pay Every Penny to Save Israel" atau "Sumbangkan setiap penny untuk menyelamatkan Israel."

      Bahkan jika melihat ke balik kemasan, terdapat symbol-symbol kecil yang juga adalah pensamaran symbol ular melilit.

      LOGO ZIONIS YAHUDI DI ATAP GEDUNG IRAN AIR

      Sebuah gambar hasil pencitraan satelit milik Google Earth pada gedung penerbangan nasional Iran menampakkan logo Bintang David, simbol Yahudi Zionist, lalu pejabat pemerintahan Republik tersebut buru-buru meminta gambar tersebut dihilangkan dari Google Earth.

      Menurut Ynetnews.com. Pejabat setempat mengatakan jika bangunan tersebut dibangun oleh para insinyur kebangsaan Israel yang bekerja di negara itu sebelum terjadinya Revolusi pada 1979.
      “Ini menarik sebab meski telah 32 tahun kemenangan revolusi, simbol Zionis itu belum juga di hapus dari sana”, demikian website setempat menulis.
      Permintaan penghapusan symbol zionis tersebut terkait laporan-laporan media setempat tentang hubungan dekat Iran dengan kekuatan Israel saat Revolusi.
      Menurut laporan lokal, pesawat-pesawat El Al secara rutin  lepas landas dari bandara internasional Mehrabad di Teheran ke bandara Ben-Guron Airport di Tel Aviv antara tahun 1960 and 1979. Selain itu, Israel juga menjual senjata secara barter dengan minyak kepada tentara raja Iran Shah Mohamed Reza Pahlavi.

      Kejadian ini sesungguhnya bukan yang pertama. Pada bulan Agustus, bintang Daud Zionist juga ditemukan pada sebuah gedung di Teheran sehingga memancing munculnya beberapa pernyataan tentang keterkaitan rezim Zionis dan Revolusi.

      Koodinat Google Earth: http://maps.google.com/maps?ll=35.696377,51.318917&z=16&t=h&hl=id
      Sumber:
      1. http://www.foxnews.com/world/2010/11/30/report-star-david-spotted-iranian-airport/
      2. http://www.jpost.com/IranianThreat/News/Article.aspx?ID=197395&R=R1
      3. http://www.metrotvnews.com/read/news/2010/12/01/35582/Wah-Simbol-Yahudi-Muncul-di-Atap-Gedung-Maskapai-Iran/
      4. http://masbadar.com/ada-logo-zionis-yahudi-bintang-daud-di-atap-gedung-iran-air/

      SIAPA HORUS, RA, DAN DEVIL OF EYE?

      AGAMA Yahudi mengenal tuhan yang banyak (Pantheisme). Tuhan yang banyak itu dikepalai oleh Tuhan Kepala, yang bernama YHWH. Tidak ada konsonannya. Untuk memudahkan penyebutan, biasanya orang menamakan Yahweh atau Yehweh. Yahweh ini memimpin dan punya tuhan-tuhan kecil, yakni Jahova, Elohim, Joshua, Horus, Ra, dan lain-lain. Sebab itu, salah satu prinsip dalam agama Yahudi adalah Lord of the Lords. Satu tuhan di antara tuhan-tuhan kecil lainnya.

      Sekitar tahun 1700 SM, di saat Pharaoh berkuasa di Mesir, saat itu yang sedang berkuasa seorang Pharaoh wanita bernama Hap Thet Suth. Pada masa inilah terbentuk komunitas Yahudi yang cukup besar di Mesir. Itu sebelum Nabi Musa.

      Ketika itu mereka mengklaim bahwa simbol-simbol keagamaan yang digunakan oleh penguasa Mesir sesungguhnya punya mereka, punya kaum Yahudi. Jadi mereka menganggap Dewa Ra dan Horus sebagai tuhan-tuhannya.

      Dewa Ra adalah dewa pencipta, raja langit, yang berbentuk dan menyerupai matahari.
      Horus sendiri adalah dewa berbentuk burung elang. Biasanya disimbolkan dengan matanya yang khas.
      Eye of Evil, inilah mata Pangeran Kegelapan, yang selalu mengawasi pelaksanaan tugas untuk menguasai dunia kebenaran. Dalam agama Yahudi, diperkuat oleh Protocolat Zionis, mata setan ini menjadi semacam ’pengawasan melekat atau waskat’ bagi orang Yahudi dalam menjalankan misinya. Sebab itu ia juga dipertuhankan.
      Selain simbol tuhan, ada juga simbol lingkaran dengan titik di tengah. Ini pun sebenarnya juga merupakan satanic symbol, yang memiliki arti organ kemaluan perempuan, lawan dari obelix symbol (menara berupa tiang tegak lurus) yang mengibaratkan simbol organ kemaluan laki-laki. (ZILZAAL)

      KELOMPOK FREEMASON DAN GAGASAN PLURALISME AGAMA (2 - HABIS)

      Menurut Schuon, eksoteris adalah aspek eksternal, formal, hukum, dogmatis, ritual, etika dan moral sebuah agama. Eksoteris berada sepenuhnya di dalam Maya, kosmos yang tercipta. Dalam pandangan eksoteris, Tuhan dipersepsikan sebagai Pencipta dan Pembuat Hukum bukan Tuhan sebagai Esensi karena eksoterisme berada di dalam Maya, yang relatif dalam hubungannya dengan Atma. Pandangan eksoteris bermakna pandangan yang eksklusif, absolut dan total, sekalipun dari sudut pandang intelek adalah relatif.

      Menurut Schuon, pandangan eksoteris, bukan saja benar dan sah bahkan juga keharusan mutlak bagi keselamatan (salvation) individu. Bagaimanapun, kebenaran eksoteris adalah relatif.[17] Inti dari eksoteris adalah ‘kepercayaan’ kepada “huruf”,-- sebuah dogma esklusifistik (formalistik)--dan kepatuhan terhadap hukum ritual dan moral.

      Selain itu, eksoterisme tidak pernah akan melampaui individu. Eksoterisme bukan muncul dari esoterisme, namun muncul dari Tuhan.[18] Schuon menyadari jika masing-masing “form” agama meyakini bahwa sesuatu “form” itu lebih hebat dibanding dengan “form” yang lain. Pemikiran seperti itu, lanjut Schuon, sangat wajar. Perpindahan agama terjadi justru karena adanya superioritas sebuah “form” terhadap yang lain.


       
      Bagaimanapun, superioritas tersebut sebenarnya relatif. Menurut Schuon, Islam misalnya, lebih baik dari Hindu karena memuat bentuk terakhir dari Sanatana Dharma. Schuon mengatakan.: “…Sama halnya, bahwa Agama Hindu adalah form yang paling tua yang masih hidup mengimplikasikan bahwa agama tersebut memiliki superioritas tertentu atau sentralitas dibanding dengan bentuk yang terakhir (Islam)”.[19]
      Esoteris adalah aspek metafisis dan dimensi internal agama. Tanpa esoterisme, agama akan teredusir menjadi sekedar aspek-aspek eksternal dan dogmatis-formalistik. Esoterisme dan eksoterisme saling melengkapi. Esoteris bagaikan “hati” dan eksoteris bagaikan ‘badan’agama. Menurut Schuon, titik-temu agama bukan berada pada level eksoteris. Sekalipun agama hidup di dalam dunia bentuk (a world of forms), namun ia bersumber dari Esensi yang Tak Berbentuk (the formless Essence). Agama memiliki dimensi esoteris yang berada di atas dimensi eksoteris. Titik temu antar agama hanya ada pada level esoteris.[20]
      Melalui esoterisme, manusia akan menemukan dirinya yang benar. Pandangan esoteris akan menolak ego manusia dan mengganti ego tersebut menjadi ego yang diwarnai dengan nilai-nilai ketuhanan.[21] Esoterisme menembus simbol-simbol eksoterisme.
      Sekalipun terkait secara inheren kepada eksoterisme, esoterisme independen dari aspek eksternal, bentuk, formal agama.[22] Independensi tersebut karena esensi dari esoterisme adalah kebenaran total. Kebenaran yang tidak terbatas dan tidak teredusir kepada eksoterisme, yang memiliki keterbatasan.[23]
      Pemaparan ringkas diatas menunjukkan gagasan Guenon dan Schuon yang memformulasi kesamaan agama dalam level esoteris adalah hasil interaksi mereka dengan para tokoh Freemason dan Teosofi. Gagasan pada intinya semua agama sama disebarkan pada awalnya oleh para pengikut Freemason, yang ingin merelevansikan ajaran-ajaran Yahudi, mistis, dan “hikmah kuno” (ancient wisdom) ke zaman modern. (habis)

      Catatan Kaki
      [17] Frithjof Schuon, The Transcendent, hlm. 15.
      [18] Frithjof Schuon, Spiritual Perspectives, hlm. 79-80.
      [19] Schuon mengatakan: “ … similarly, the fact that Hinduism is the most ancient of the living religious forms implies that it possesses a certain superiority or centrality with respect to later forms. There is not, of course, any contradiction here , since the standpoint is different in the two cases." Lihat Frithjof Schuon, The Transcendent, hlm. 36.
      [20] Seyyed Hossein Nasr, The Essential Writings, hlm. 15.
      [21] Frithjof Schuon, Gnosis, hlm. 70-71.
      [22] Frithjof Schuon, Sufism, hlm. 32.
      [23] Seyyed Hossein Nasr, The Essential Writings, hlm. 90-91.

      Subscribe To RSS

      Sign up to receive latest news

       
      Thanks to FADHLURRAHMAN From Otam Farrell